Fenomena sampah yang dibuang sembarangan tidak hanya berhenti di tempat pembuangan akhir atau sungai di sekitar permukiman. Sampah dapat terbawa aliran sungai menuju laut, lalu hanyut mengikuti arus hingga mencapai negara lain yang letaknya ribuan kilometer dari Indonesia. Hal ini juga terjadi di Sungai Bengawan Solo, seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Bahri Rambe, National Project Manager sekaligus Koordinator Nasional Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut (TKN PSL) di United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia.
Pernyataan Resmi dari UNDP Indonesia
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad Bahri Rambe saat membuka kegiatan #SungaiLestari di Pendopo Kantor Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, pada Selasa (4/8/2026). Ia menegaskan bahwa sampah dari Bengawan Solo tidak hanya menjadi masalah lokal, tetapi juga berdampak pada negara lain.
Dampak Sampah Laut bagi Lingkungan dan Masyarakat
Menurut Ahmad, sampah yang hanyut ke laut dapat merusak ekosistem laut, membahayakan biota laut, dan pada akhirnya memengaruhi mata pencaharian nelayan. Selain itu, sampah plastik yang terurai menjadi mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan dan membahayakan kesehatan manusia.
Upaya Penanganan Sampah di Bengawan Solo
Kegiatan #SungaiLestari merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi sampah yang masuk ke sungai. Ahmad berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai. Ia juga mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Harapan untuk Masa Depan
Ahmad menekankan bahwa penanganan sampah laut memerlukan kerja sama lintas sektor dan lintas negara. Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki peran penting dalam upaya global mengurangi sampah laut. Dengan adanya kegiatan seperti #SungaiLestari, diharapkan kesadaran masyarakat meningkat dan sampah yang dibuang ke sungai dapat berkurang secara signifikan.



