Pengguna bus TransJakarta (TJ) mendesak agar dua jembatan penyeberangan orang (JPO) yang letaknya berdekatan di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, segera disambungkan. Mereka menilai penyambungan tersebut akan memangkas waktu tempuh saat keluar dari Halte TransJakarta Rasuna Said sekaligus mengurangi kebingungan bagi penumpang yang baru pertama kali menggunakan akses tersebut.
Keluhan Pengguna: Waktu Tempuh Lebih Lama dan Rawan Salah Arah
Anna (22), salah satu pengguna TJ, mengungkapkan bahwa kondisi akses naik-turun JPO saat ini memaksanya berjalan lebih jauh dan lebih lama. Ia menjelaskan bahwa kedua JPO yang terpisah mengharuskan penumpang untuk naik terlebih dahulu ke JPO yang terintegrasi dengan Stasiun LRT Rasuna Said sebelum akhirnya turun ke trotoar.
“Lebih makan waktu,” ujar Anna saat ditemui di JPO Stasiun LRT Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/8/2026).
Anna menambahkan bahwa penyambungan JPO akan sangat membantu mobilitas masyarakat, terutama mereka yang tidak familiar dengan area tersebut. Ia menyoroti banyaknya orang yang salah naik JPO karena mengira kedua jembatan itu saling terhubung.
“Disambungin lagi, paling itu sih. Ya mungkin bisa disambungin lagi sih. Soalnya kalau misalkan orang yang nggak tahu daerah sini juga bakalan bingung kan? Kayak dia udah terlanjur naik di situ, mikirnya udah masuk ke TJ, tapi ternyata dia harus muter lagi, naik lagi ke sini untuk nyambung ke TJ gitu. Jadi kayak bikin bingung aja,” tuturnya.
Penyambungan JPO Dinilai Efektif untuk Mengurai Kepadatan
Lebih lanjut, Anna meyakini bahwa penyambungan JPO juga akan mengurai kepadatan penumpang, terutama pada jam sibuk. Saat ini, akses yang ada justru memusatkan pengguna TJ dan LRT pada satu JPO yang sama, sehingga sering terjadi penumpukan.
“Kalau orang kantor kan juga biasanya kalau pulang, jam pulang, atau jam pergi, kan crowded kan? Biar gampang mobilisasinya sih,” ujarnya.
Senada dengan Anna, pengguna TJ lainnya, Fajar, mengaku sempat kebingungan saat pertama kali menggunakan JPO di kawasan tersebut. Ia awalnya mengira akses keluar-masuk Halte TransJakarta Rasuna Said bisa melalui kedua JPO itu, namun kenyataannya hanya satu JPO yang terhubung langsung dengan halte.
“Pusing banget sih, soalnya baru pertama kali juga. Jadi, mungkin buat arah ke sini (Kuningan) sama ke sananya (Menteng) lumayan bingung. Iya mungkin disambung bagus sih untuk mempermudah lah, ya. Biar nggak capek juga kalau bolak-balik, kalau salah arah,” ucapnya.
Penjelasan Pemprov DKI: JPO Integrasi Milik LRT Jabodebek
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinarwenny, memberikan penjelasan. Ia menyatakan bahwa JPO lama merupakan fasilitas penyeberangan milik Pemprov DKI Jakarta, sedangkan JPO yang berada tepat di sebelahnya adalah JPO integrasi yang dibangun oleh pihak LRT Jabodebek. JPO baru tersebut kini menjadi satu-satunya akses masuk dan keluar Halte TransJakarta.
“Sebelum halte TransJakarta dipindahkan ke bawah Stasiun Terintegrasi LRT Jabodebek, JPO eksisting juga menjadi akses langsung menuju halte. Namun setelah halte dipindahkan, akses menuju halte dilakukan melalui JPO integrasi yang dibangun oleh pihak LRT Jabodebek,” kata Wenny.
Wenny menambahkan bahwa JPO yang terintegrasi dengan stasiun LRT itu juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum untuk menyeberang jalan. JPO integrasi memiliki area tidak berbayar (unpaid area), sehingga warga yang tidak menggunakan layanan LRT maupun TransJakarta tetap bisa menggunakannya.
“JPO integrasi terdapat area tidak berbayar (unpaid area) sehingga dapat digunakan oleh masyarakat umum untuk menyeberang. Fasilitas ini telah dilengkapi dengan lift untuk memudahkan akses masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, serta pengguna lainnya yang membutuhkan kemudahan akses,” ujarnya.
Kendala Teknis: Perbedaan Tinggi dan Jarak yang Sempit
Mengenai usulan penyambungan kedua JPO, Wenny menyatakan bahwa rencana tersebut memerlukan kajian teknis dari pihak LRT Jabodebek selaku pemilik sekaligus pengelola JPO integrasi. Ia mengungkapkan adanya perbedaan ketinggian lantai sekitar 75 cm antara kedua JPO, sementara jarak antar keduanya hanya sekitar 60 cm.
“Kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk membangun tangga maupun ramp yang memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan, kenyamanan, serta standar aksesibilitas bagi pengguna,” jelasnya.
Wenny pun mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan fasilitas penyeberangan yang tersedia dan selalu mengutamakan keselamatan saat beraktivitas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan fasilitas penyeberangan yang tersedia dan selalu mengutamakan keselamatan saat beraktivitas,” sambungnya.



