Kepolisian saat ini tengah mendalami kartu tanda anggota (KTA) yang diduga sempat diperlihatkan oleh sopir mobil Toyota Alphard saat menjalani mediasi dengan satpam bernama Victor Harefa di pos polisi (pospol) Thamrin. Mediasi tersebut digelar setelah keduanya terlibat cekcok akibat kendaraan mewah itu menerobos lampu lalu lintas di depan Hotel Pullman, Jakarta Pusat.
Polisi Masih Dalami Asal Usul KTA
Kapolsek Metro Menteng AKBP Braiel Arnold Rondonuwu menyatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki KTA yang dimaksud. "Ya itu masih kita dalami karena yang bersangkutan juga tidak bisa secara spesifik, belum bisa secara spesifik menjelaskan KTA apa dari mana, masih belum bisa menjelaskan," ujarnya kepada wartawan pada Jumat (24/7).
Braiel menambahkan bahwa polisi juga akan meminta klarifikasi dari personel yang bertugas di pospol saat mediasi berlangsung. Langkah ini diambil untuk mendalami apakah ada dugaan intimidasi atau kekerasan yang dialami Victor Harefa, yang bekerja sebagai satpam di proyek MRT. Meski demikian, sejauh ini Braiel mengklaim tidak ada intimidasi maupun tindak kekerasan dalam mediasi tersebut.
Proses Klarifikasi untuk Mengungkap Fakta
"Iya dimintai klarifikasi, sekalian kita minta klarifikasinya seperti apa. Karena kan sudah ada proses mediasi, kemudian ada salah satu pihak yang merasa kurang pas, atau kurang berkenan," tutur Braiel. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mengundang kedua belah pihak untuk mengklarifikasi duduk perkara dan menyelesaikan masalah hingga tuntas.
Sebelumnya, video yang merekam aksi mobil Alphard menerobos lampu merah di pelican crossing depan Hotel Pullman viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat sejumlah pejalan kaki sedang menyeberang saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah untuk kendaraan. Namun, mobil Alphard tetap melaju dan menerobos.
Kronologi Cekcok dan Dugaan Pelat Palsu
Seorang satpam yang juga sedang menyeberang kemudian menegur sopir Alphard. Namun, sopir diduga tidak terima dengan teguran tersebut. "Kemudian satpam menegur pengendara dengan menggebrak kaca mobil. Pengendara mobil tidak terima dengan tindakan security tersebut dan terjadi cekcok mulut," kata Braiel. Keduanya kemudian mendatangi pos polisi untuk mediasi dan akhirnya sepakat berdamai.
Belakangan, terungkap bahwa mobil Alphard hitam tersebut diduga menggunakan pelat nomor palsu atau tidak sesuai peruntukannya. Pelat nomor D 1828 XHQ yang terpasang ternyata terdaftar untuk mobil Daihatsu Gran Max warna silver metalik berdasarkan penelusuran di situs resmi Bapenda Jabar.
Polisi Panggil Sopir dan Satpam untuk Konfrontasi
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani menyatakan pihaknya juga mendalami penggunaan pelat tersebut. "Saya akan melakukan panggilan klarifikasi kepada pemilik Alphard. Kemudian panggilan klarifikasi kepada sekuriti yang terlibat cekcok dengan sopir Alphard. Setelah itu kita akan konfrontir di Subdit Gakkum," ucap Ojo.



