Siswa SMP di Pemalang Tewas Diduga Dibully, Polisi Autopsi
Siswa SMP Pemalang Tewas Diduga Dibully, Polisi Autopsi

Seorang siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, berinisial AAF (13), meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan atau bullying. Polisi saat ini tengah melakukan penyelidikan mendalam dan telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk teman-teman korban.

Korban diketahui merupakan warga Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal. Kabar duka ini mengejutkan warga setempat dan memicu keprihatinan publik. Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Faizal Wildan Umar, membenarkan bahwa pihaknya telah melakukan autopsi terhadap jenazah korban untuk mengungkap penyebab kematian.

Autopsi dan Pemeriksaan Saksi

"Untuk hari ini kami sudah melaksanakan autopsi bersama Dokes Polda Jawa Tengah. Untuk hasil autopsi nanti akan kami rilis lebih lanjut. Saat ini kami masih dalam penyelidikan dan pendalaman terkait saksi-saksi yang ada," kata Wildan saat ditemui wartawan di RS Mardhatillah Randudongkal, dilansir detikJateng, Senin (3/8/2026).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Penyidik saat ini tengah memeriksa sejumlah saksi yang terdiri dari teman-teman korban, dokter yang menangani korban selama menjalani perawatan di rumah sakit, serta orang tua korban. "Kami masih dalam penyelidikan dan pendalaman terkait saksi-saksi yang ada dan saat ini kami sedang melaksanakan pemeriksaan kepada beberapa saksi dari teman korban dan dokter yang menangani dan dari orangtua korban," ungkapnya.

Kronologi Penanganan Kasus

Kasus ini mulai ditangani setelah anggota Polsek Randudongkal menerima aduan terkait meninggalnya korban pada Minggu (2/8) sekitar pukul 22.00 WIB. "Begitu menerima aduan, anggota Satreskrim Polres Pemalang bersama Polsek Randudongkal langsung mendatangi rumah duka di Desa Semingkir untuk melakukan pengecekan dan meminta keterangan awal dari orang tua korban," ujarnya.

Dari keterangan awal yang diperoleh penyidik, korban sempat menjalani perawatan selama satu hari di RS Mardhatillah Randudongkal sebelum akhirnya meninggal dunia. Polisi belum merilis hasil autopsi secara resmi, namun dugaan sementara mengarah pada perundungan yang dialami korban.

Dampak dan Harapan Publik

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus bullying di lingkungan sekolah yang kerap berujung fatal. Publik berharap penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku perundungan agar memberikan efek jera. Polres Pemalang berkomitmen mengusut tuntas kasus ini dan akan merilis hasil autopsi segera setelah pemeriksaan laboratorium selesai.

Masyarakat juga diimbau untuk lebih peduli terhadap tanda-tanda perundungan pada anak, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan pendidikan anti-bullying di institusi pendidikan.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga