Menhut Raja Juli Bertemu Menteri Norwegia, Dorong Penguatan Perhutanan Sosial dan Pencegahan Karhutla
Kerja sama internasional semakin krusial dalam menghadapi tantangan krisis iklim dan pemanasan global yang kian nyata. Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Menteri Pembangunan Internasional Norwegia Åsmund Aukrust baru saja menggelar pertemuan bilateral di Jakarta, yang fokus pada penguatan sektor kehutanan Indonesia.
Dukungan Norwegia melalui Skema Result Based Contribution
Dalam pertemuan tersebut, Pemerintah Norwegia menyatakan komitmennya untuk mendukung sektor kehutanan Indonesia melalui skema Result Based Contribution (RBC). Raja Juli Antoni menegaskan bahwa dukungan ini telah memberikan kontribusi nyata dalam berbagai aspek, termasuk pengelolaan hutan secara lestari, pengembangan perhutanan sosial, serta upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan.
"Dukungan Pemerintah Norwegia telah memberikan kontribusi nyata dalam pengelolaan hutan secara lestari, perhutanan sosial, hingga upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan," kata Raja Juli, seperti dikutip dari siaran pers resmi pada Jumat, 13 Februari 2026.
Peluncuran Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan
Selain mengapresiasi kerja sama melalui skema RBC, Kementerian Kehutanan RI juga meluncurkan layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan. Inisiatif ini merupakan bagian dari penguatan kolaborasi multipihak dalam menjaga kelestarian hutan dan lingkungan hidup. Raja Juli mengungkapkan bahwa ini adalah kali keempat kerja sama serupa dilakukan dengan Norwegia.
"Dana ini merupakan yang keempat kalinya bekerja sama dengan Norwegia," ungkap Raja Juli. Ia menilai Norwegia telah memberikan bantuan yang luar biasa dalam sektor kehutanan, mencakup perhutanan sosial, penanganan kebakaran hutan, dan pengelolaan hutan berkelanjutan.
Pentingnya Kolaborasi Internasional dalam Krisis Iklim
Raja Juli menekankan bahwa kerja sama internasional menjadi sangat penting di tengah tantangan krisis iklim dan pemanasan global yang semakin nyata. Ia menyatakan bahwa waktu untuk bertindak sangat terbatas, sehingga diperlukan kolaborasi lintas negara, lembaga, dan masyarakat.
"Persoalan perubahan iklim dan pemanasan global sungguh nyata, sementara waktu kita semakin sempit. Karena itu, kita perlu terus memperkuat kerja sama," tegasnya. Atas nama Pemerintah Indonesia, ia mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kerja sama yang telah terjalin dengan sangat baik selama ini.
Dukungan bagi Masyarakat dan LSM dalam Pelestarian Lingkungan
Raja Juli menjelaskan bahwa Inisiatif layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan membuka kesempatan bagi masyarakat, LSM/NGO, serta masyarakat adat untuk mendaftar sebagai penerima atau calon penerima hibah (grant). Tujuannya adalah untuk mendukung kegiatan pelestarian lingkungan di tingkat tapak.
"Dengan bangga saya melaunching satu inisiatif yang sudah terjadi untuk keempat kalinya, yakni layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan. Kami berharap melalui launching ini, masyarakat, LSM/NGO, serta masyarakat adat dapat mendaftar menjadi penerima atau calon penerima grant," ungkap Raja Juli.
Target Peningkatan Dana dan Penerima Manfaat
Sebagai informasi, pada tahun sebelumnya, pemerintah telah menyalurkan dana sebesar Rp 19,31 miliar kepada 561 kelompok penerima manfaat, yang melibatkan 31.512 individu di 36 provinsi. Ke depan, Raja Juli menargetkan peningkatan jumlah dana dan penerima manfaat melalui penguatan sinergi dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH).
"Insya Allah, saya akan berbicara dengan BPDLH agar tahun depan jumlahnya harus lebih banyak dan penerimanya juga semakin luas," tutup Raja Juli. Dengan langkah ini, diharapkan upaya pelestarian hutan dan lingkungan hidup dapat semakin efektif dan meluas di seluruh Indonesia.