Dapur MBG Palmerah: Kolam Bioflok Serap Tenaga Kerja dan Topang Ketahanan Pangan
Kolam Bioflok MBG Palmerah Serap Tenaga Kerja

Dapur MBG Palmerah: Kolam Bioflok Serap Tenaga Kerja dan Topang Ketahanan Pangan

Program ketahanan pangan melalui Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di Palmerah, Jakarta Barat, mendapatkan dukungan aktif dari kalangan pemuda setempat. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah pengelolaan kolam ikan sistem bioflok yang dipercayakan kepada Hairul (41), anggota Karang Taruna Kecamatan Palmerah.

Dukungan Pemuda untuk Program Ketahanan Pangan

Hairul menyatakan komitmennya terhadap program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah. "Saya sangat mendukung program Bapak Presiden untuk ketahanan pangan," ujarnya saat ditemui di SPPG Polri Palmerah. Menurutnya, dukungan ini tidak hanya berasal dari dirinya sendiri, tetapi juga dari para pembudidaya ikan di berbagai daerah yang melihat pendekatan penguatan produksi dari skala kecil sebagai langkah realistis menuju kemandirian pangan.

"Teman-teman pembudidaya di seluruh Indonesia benar-benar sangat mendukung ketahanan pangan, kecukupan pangan minimal. Skala kecil dahulu sehingga lebih sejahtera untuk prosesnya ke skala besar," papar Hairul. Di Palmerah, pengembangan kolam bioflok tidak hanya berfokus pada produksi ikan, tetapi juga membawa dampak sosial yang signifikan bagi lingkungan sekitar.

Dampak Sosial: Serapan Tenaga Kerja dan Pemberdayaan

Kegiatan budidaya ikan di Dapur MBG Palmerah telah menciptakan efek domino positif bagi masyarakat setempat. Hairul menjelaskan bahwa program ini mampu menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memberikan keterampilan baru bagi warga yang sebelumnya tidak memiliki keahlian khusus.

"Jadi, sebenarnya efek domino dari program ketahanan pangan ini memang menyerap tenaga kerja," jelasnya. "Paling tidak membantu warga sekitar yang tadinya mungkin nggak ada wawasan, nggak ada skill, kita ajarkan dan mereka juga bekerja dengan kita."

Sistem pengelolaan kolam bioflok ini tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga membuka peluang bagi hasil atau pembagian keuntungan kepada para pekerja yang terlibat. "Bisa bagi hasil ataupun pemberian keuntungan. Jadi, paling tidak mengurangi jumlah pengangguran di sekitar," ucap Hairul dengan optimisme.

Harapan dan Tantangan ke Depan

Meski memberikan dampak positif, Hairul juga menyampaikan harapannya agar pemerintah turut memperhatikan kendala yang dihadapi oleh para pembudidaya ikan. Salah satu tantangan utama yang disebutkan adalah kenaikan harga pakan ikan yang terus melambung.

"Harga pelet ikan benar-benar melambung. Susah didapat. Mohon dibantu," kata dia. Dukungan dalam hal akses dan keterjangkauan pakan ikan diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan program budidaya ini.

Hasil produksi ikan dari kolam bioflok di Palmerah akan langsung diserap oleh SPPG yang ada di wilayah tersebut, sehingga berkontribusi langsung pada pemenuhan gizi masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana program ketahanan pangan skala kecil dapat menjadi pondasi penting dalam membangun kemandirian pangan sekaligus memberdayakan masyarakat lokal.