Sungai Tiram Bintan Dikembangkan Jadi Kawasan Budidaya Ikan dan Wisata Mangrove
Kawasan mangrove Sungai Tiram di Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), kini mulai dilirik untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya perikanan yang berkelanjutan dengan memadukan konsep silvofishery. Program inovatif ini digagas oleh Naoto Akune, seorang pecinta mangrove asal Jepang, yang melihat potensi unggul daerah tersebut untuk dijadikan lahan budidaya yang ramah lingkungan.
Metode Silvofishery: Integrasi Mangrove dan Perikanan
Budidaya perikanan berbasis silvofishery merupakan metode yang mengintegrasikan pelestarian hutan mangrove dengan kegiatan perikanan produktif. Naoto Akune menjelaskan bahwa sistem ini telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan beberapa wilayah di Asia Tenggara. "Kawasan mangrove ini potensial dikembangkan menjadi model budidaya berkelanjutan yang mampu menjaga ekosistem sekaligus menghasilkan nilai ekonomi dengan sistem silvofishery," ujarnya, seperti dilansir dari Antara.
Dalam konsep silvofishery, sekitar 60 hingga 80 persen area dipertahankan sebagai hutan mangrove, sementara 20 hingga 40 persen lainnya dimanfaatkan sebagai parit atau kolam untuk budidaya ikan, udang, dan kepiting. Akune menekankan bahwa mangrove berperan penting sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. "Dengan sistem ini, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan bisa ditekan, sehingga budidaya menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan," paparnya.
Dukungan Komunitas dan Potensi Ekonomi Hijau
Ketua Umum Komunitas Jurnalis Kepri (KJK) Ady Indra Pawennari menyatakan bahwa silvofishery merupakan solusi ideal untuk kawasan mangrove seperti Sungai Tiram. Konsep serupa telah banyak dikembangkan di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Ady menambahkan bahwa sistem ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga membantu menjaga kelestarian mangrove. "Sungai Tiram dapat menjadi percontohan pengelolaan mangrove berbasis ekonomi hijau di Kepri, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari upaya pelestarian lingkungan," katanya.
Keberhasilan program ini bergantung pada edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, termasuk pelatihan teknis dan pengelolaan hasil panen yang baik. Dukungan pemerintah dan kolaborasi berbagai pihak diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir setempat.
Pengembangan Wisata Menanam Mangrove oleh BPDAS Kepri
Sejalan dengan upaya budidaya perikanan, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Kepri juga mengembangkan program Planting Tourism atau wisata menanam mangrove. Kepala BPDAS Kepri Haris Sofyan Hendriyanto menjelaskan bahwa program ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, serta Kehutanan Provinsi Kepri.
"Fokus utamanya adalah mengajak wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga berkontribusi langsung melalui aktivitas menanam mangrove," terang Haris. Saat ini, telah terpetakan sekitar sembilan titik di Bintan yang menjadi pionir dalam pengembangan wisata menanam mangrove, melibatkan kelompok masyarakat dan komunitas lokal seperti Pengudang, Gudi Farm, serta kawasan yang dikelola komunitas Akar Bumi di Pandang Tak Jemu.
Haris menegaskan bahwa karakteristik Kepri yang unik dengan potensi wisatawan dan mangrove harus dimanfaatkan secara optimal. "Kami ingin pembangunan kehutanan dapat memanfaatkan potensi daerah tersebut secara optimal," pungkasnya. Dengan pendekatan ini, diharapkan terjadi sinergi antara pelestarian lingkungan, peningkatan ekonomi, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Sungai Tiram Bintan.