Para petugas penyelamat di Jepang terus berupaya mencari korban selamat dari reruntuhan pusat perbelanjaan di Kumamoto yang ambruk akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,1. Jumlah korban tewas akibat gempa dahsyat tersebut kini bertambah menjadi 34 orang.
Penemuan Korban di Mal Aeon dan Pabrik
Kantor manajemen bencana Kumamoto, Kamis (30/7/2026), merilis angka terbaru dengan menyatakan bahwa tujuh jenazah telah berhasil dikeluarkan dari tumpukan puing, baja, dan kabel di Mal Aeon. Mal tersebut ambruk setelah ledakan gas menyusul gempa yang terjadi pada Selasa (28/7). Selain itu, delapan orang dipastikan tewas di pabrik Nippon Paper Industries di Kota Yatsushiro.
Kondisi Darurat dan Evakuasi
Lima orang lainnya dilaporkan dalam kondisi kritis, sementara hampir 9.500 warga mengungsi ke pusat-pusat evakuasi di wilayah Pulau Kyushu. Gempa ini menyebabkan kerusakan parah, meratakan rumah-rumah, merusak jembatan, memicu kebakaran, dan membuat puluhan ribu penduduk kehilangan aliran listrik dan air bersih. Situasi diperparah dengan cuaca panas yang diperkirakan mencapai 38 derajat Celcius pada akhir pekan ini. Sekitar 13.520 rumah tangga masih belum mendapatkan pasokan listrik hingga Kamis (30/7).
Sejarah Kegempaan di Jepang
Jepang merupakan salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia karena berada di atas empat lempeng tektonik utama di sepanjang tepi barat 'Cincin Api' Pasifik. Kawasan Kumamoto pernah dihantam dua gempa bumi dahsyat pada tahun 2016 yang menewaskan 273 orang dan melukai lebih dari 2.800 orang. Negara dengan penduduk sekitar 125 juta jiwa ini biasanya mengalami ratusan guncangan gempa setiap tahun, meskipun sebagian besar bersifat ringan. Sebelumnya, pada tahun 2011, Jepang mengalami gempa bawah laut Magnitudo 9,0 yang memicu tsunami dan menyebabkan sekitar 18.500 orang tewas atau hilang.



