Serang dan Situbondo Teken MoU, Gelar Festival Anyer Panarukan
Serang-Situbondo MoU untuk Anyer Panarukan

Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, dan Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Rabu, 29 Juli 2026, di Pendopo Rakyat Situbondo. Kesepakatan ini menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali jalur legendaris Anyer-Panarukan, yang membentang sepanjang sekitar 1.000 kilometer.

Apa itu Anyer-Panarukan?

Jalur Anyer-Panarukan merupakan jalan raya pos (postweg) yang dibangun pada masa kolonial Belanda di bawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1808. Jalur ini dikenal sebagai salah satu infrastruktur bersejarah yang menghubungkan ujung barat Pulau Jawa (Anyer, Banten) hingga ujung timur (Panarukan, Situbondo). Meskipun memiliki sejarah kelam sebagai simbol kerja paksa atau rodi, pemerintah daerah menilai nilai sejarahnya dapat dijadikan modal promosi pariwisata.

MoU yang ditandatangani oleh Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, dan Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, mencakup program Anyer Panarukan 3R: Road, Route, dan Roots. Program ini dirancang untuk melestarikan Jalan Raya Pos sebagai warisan sejarah, membangun koridor perjalanan wisata dari Anyer hingga Panarukan, serta menggali kembali sejarah, budaya, dan kearifan lokal di sepanjang jalur tersebut.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Strategi Branding dan Dampak Ekonomi

Bupati Situbondo, Rio Wahyu Prayogo, menekankan bahwa pemilihan Jalan Raya Pos sebagai identitas baru Situbondo sangat strategis dari segi pemasaran dan pencitraan daerah. "Ketika kita bicara Anyer-Panarukan, hampir semua orang di Indonesia tahu. Dari sisi marketing dan branding daerah, ini sangat strategis karena kita mengangkat sesuatu yang sudah ada sejak masa lampau dan masih eksis sampai sekarang," ujar Rio. Ia menambahkan bahwa jalur ini seperti "berlian yang masih tertutup lumpur" dan harus diangkat kembali agar memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama bagi UMKM.

Rio juga mengakui bahwa sejarah Jalan Raya Pos tidak sepenuhnya positif, tetapi hal itu bisa dijadikan titik tolak untuk memberi makna baru. "Anyer dan Panarukan bukan sesuatu yang kecil. Ini sesuatu yang besar," tegasnya.

Langkah Konkret: Festival Anyer-Panarukan

Sebagai implementasi awal, kedua pemerintah daerah berencana menggelar Festival Anyer-Panarukan dalam waktu dekat. Festival ini diharapkan menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali koridor Jalan Raya Pos sebagai destinasi wisata sejarah sekaligus memperkuat kolaborasi ekonomi antardaerah yang dilalui jalur tersebut.

Bupati Serang, Ratu Rachmatuzakiyah, menyatakan bahwa MoU akan ditindaklanjuti melalui kerja sama antarorganisasi perangkat daerah (OPD) di berbagai sektor, termasuk perdagangan, pendidikan, komunikasi, dan pariwisata. "Kami ingin kerja sama ini diwujudkan dalam program-program nyata, konkret, berdampak pada masyarakat, menghasilkan pendapatan daerah, dan yang lebih penting meningkatkan kesejahteraan warga Kabupaten Serang maupun Kabupaten Situbondo," kata Ratu.

Harapan Kolaborasi Lintas Daerah

Rio berharap kerja sama ini tidak berhenti di Serang dan Situbondo saja, tetapi berkembang menjadi jejaring lintas daerah yang melibatkan seluruh kabupaten dan kota yang dilalui Jalan Raya Pos. Kerja sama itu diproyeksikan mencakup promosi wisata, festival budaya, misi dagang, hingga pengembangan ekonomi kreatif. Dengan demikian, jalur Anyer-Panarukan tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga menjadi koridor pertumbuhan ekonomi yang menghubungkan berbagai daerah di Pulau Jawa.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga