Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Lagi, Warga Bernostalgia
Kampung Tenggelam di Bendungan Karian Muncul Lagi, Warga Nostalgia

Kampung yang ditenggelamkan di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, kembali muncul saat kemarau kali ini. Warga yang dulu tinggal di sana bernostalgia dengan lokasi hunian mereka. Salah satu warga, Odon, mengungkapkan bahwa biasanya hanya atap-atap masjid yang terlihat jika air tinggi, namun kini banyak rumah yang terlihat dengan jelas.

Kampung yang Muncul Kembali

"Banyak juga sih yang timbul, kayak di Kampung Susukan, Karian, timbul lagi, soalnya surut. Terus Somang, Desa Sukajaya... Kalau Somang setengahnya. Sukarame," ujar Odon kepada wartawan, Senin (27/7/2026). Rumah Odon berada di Kampung Bolang yang ada di tengah-tengah waduk. Meski saat ini rumahnya tak tampak, dua pekan lalu ia sempat berkunjung ke waduk yang sudah surut. "Iya mengenang, mengenang tanah tempat kelahiran dulu," kata Odon. Odon dan banyak warga lain tidak pindah jauh dari tempatnya yang dulu; mereka membeli rumah lagi di dekat Bendungan Karian. Warga biasanya memakai rakit saat berkunjung ke waduk untuk menerka-nerka lokasi rumah mereka dulu. "Warga di situ yang bikin rakit, kan ada yang kalau punya duit membeli perahu," ujarnya.

Kemarau Menyusutkan Air

Seperti diketahui, kampung yang tenggelam kembali terlihat saat air Bendungan Karian menyusut. Bangunan kampung yang ditinggalkan penghuninya pada 2023 itu kembali bisa dinikmati. Meski sudah tak beratap, tembok-tembok rumah mulai terlihat. Kampung tersebut dulunya merupakan kampung padat penduduk. Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3), Maretha Ayu Kusumawati, menjelaskan, "Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya Kecamatan Sajira, sudah di area hulu, dan awalnya memang merupakan daerah permukiman padat." Bangunan-bangunan itu tidak dihancurkan saat ditenggelamkan; petugas hanya membersihkan tanaman-tanaman di area waduk. "Kondisi seluruh area genangan meski sudah dibebaskan tidak dilakukan demolish untuk seluruh bangunan yang terdampak. Adapun yang dilakukan proses clearing oleh tim konstruksi hanya tanamannya saja," ujar Maretha Ayu. Ia menyebut saat ini air dalam waduk hanya menyusut sekitar 5 persen, sehingga bangunan rumah tampak jelas. "Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah akan tenggelam karena beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 m. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal," katanya. Kondisi ini menjadi momen nostalgia bagi warga yang dulu menghuni area tersebut.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga
Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram