Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) sekaligus Guru Besar Linguistik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), E Aminudin Aziz, menegaskan bahwa tidak ada batasan minimal atau target jumlah buku yang harus dibaca oleh anak-anak dalam periode waktu tertentu. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks upaya menumbuhkan minat baca sejak usia dini.
Pentingnya Membaca Sejak Usia Dini
Minat membaca buku pada setiap individu dapat dipupuk sejak usia anak-anak. Kebiasaan membaca ini menjadi pondasi bagi kemampuan literasi yang akan terus bertumbuh dan memengaruhi perkembangan fisik serta mental anak. Literasi tidak hanya soal kemampuan membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi. Kemampuan literasi yang baik berkontribusi pada perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial-emosional anak. Membaca buku juga memperkaya kosakata, meningkatkan konsentrasi, serta mengembangkan imajinasi dan empati.
Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas
Menurut Aminudin, yang terpenting adalah menumbuhkan kecintaan membaca, bukan mengejar jumlah buku. "Tidak ada batasan berapa banyak buku yang harus dibaca seseorang anak dalam rentang waktu tertentu," ujarnya. Orang tua dan pendidik disarankan untuk tidak memaksakan target kuantitatif yang dapat membuat anak merasa terbebani. Sebaliknya, kualitas membaca dan pemahaman isi buku lebih diutamakan. Anak-anak perlu didorong untuk menikmati proses membaca, memilih buku yang sesuai minat, dan berdiskusi tentang cerita yang dibaca.
Manfaat Membaca bagi Anak
Kebiasaan membaca memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak, antara lain:
- Meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
- Memperluas wawasan dan pengetahuan tentang dunia.
- Mengembangkan empati melalui pemahaman karakter dan situasi dalam cerita.
- Meningkatkan daya ingat dan konsentrasi.
- Menjadi sarana hiburan yang positif dan edukatif.
Peran Orang Tua dan Lingkungan
Aminudin menekankan bahwa lingkungan yang mendukung, seperti ketersediaan buku di rumah dan contoh dari orang tua, sangat memengaruhi kebiasaan membaca anak. Tidak perlu ada target jumlah buku yang kaku; yang penting adalah konsistensi dan kesenangan dalam membaca. Orang tua dapat membacakan buku nyaring (read aloud) kepada anak, serta mengajak anak mengunjungi perpustakaan atau toko buku. Perpusnas sendiri secara aktif mendorong program-program literasi, seperti penyediaan buku bacaan bermutu dan pelatihan bagi orang tua serta guru.
Kesimpulan
Pada akhirnya, yang terpenting adalah menanamkan cinta membaca sejak dini tanpa tekanan target. Setiap anak memiliki ritme dan minat yang berbeda, sehingga tidak ada angka ideal yang berlaku universal. Dengan menjadikan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, anak akan tumbuh menjadi individu yang literat dan kritis. Aminudin mengingatkan bahwa kebiasaan membaca yang baik akan terbawa hingga dewasa dan menjadi modal penting dalam pembelajaran sepanjang hayat.



