Roket Falcon 9 milik SpaceX yang diluncurkan pada awal tahun 2025 diprediksi akan menabrak Bulan pada Rabu, 5 Agustus 2026, pukul 02.44 waktu setempat. Menurut pakar pelacakan benda antariksa Bill Gray, roket setinggi 13,8 meter (45 kaki) itu akan menghantam sisi luar Bulan dalam keadaan utuh karena Bulan tidak memiliki atmosfer yang dapat memperlambat atau menghancurkannya.
Gray, yang dikenal sebagai analis independen di balik perangkat lunak pelacakan Project Pluto, menyampaikan prediksi ini setelah mengamati lintasan roket yang tidak terkendali tersebut. Dalam sebuah pernyataan kepada Ars Technica, Gray mengungkapkan bahwa roket tersebut beberapa kali melintas dekat Bulan dan Bumi, tetapi tidak pernah cukup dekat untuk menimbulkan tumbukan. Baru pada bulan Agustus mendatang, orbitnya akan bertemu dengan sisi terjauh Bulan.
"Sungguh, benda itu beberapa kali melintas dekat Bulan dan Bumi, tetapi tidak pernah cukup dekat hingga berpotensi menimbulkan tumbukan. Survei-survei asteroid terus mengamatinya setiap kali posisinya tidak terlalu dekat dengan Matahari atau Bulan sehingga masih dapat terlihat. Hingga 26 Februari 2026, kami telah mengumpulkan 1.053 data pengamatan terhadap benda tersebut," kata Gray.
Menurut Gray, roket Falcon 9 yang dimaksud merupakan bagian dari tahap atas (upper stage) yang digunakan untuk mendorong muatan ke orbit pada misi yang diluncurkan awal tahun lalu. Setelah bahan bakarnya habis, tahap roket ini tidak memiliki tenaga untuk mengubah lintasannya. Akibatnya, ia menjadi puing antariksa yang terus mengorbit Bumi dengan orbit yang sangat elips. Gangguan gravitasi dari Bumi, Bulan, dan Matahari bertahun-tahun perlahan mengubah orbitnya, sehingga kini dipastikan akan bersinggungan dengan Bulan.
Pelacakan Ketat Selama Berbulan-bulan
Prediksi dampak ini bukanlah hasil tebakan semata. Bill Gray dan timnya mengumpulkan data pengamatan dari berbagai teleskop di seluruh dunia. Setiap kali posisi roket memungkinkan untuk dilihat, para astronom mencatat koordinatnya dan memperbarui model lintasannya. Hingga akhir Februari, tercatat 1.053 data observasi yang membantu mereka memetakan lintasan roket dengan presisi tinggi.
Proses pelacakan puing antariksa ini penting untuk mengantisipasi tabrakan dengan satelit aktif maupun benda antariksa lainnya. Langkah ini juga menjadi praktik standar dalam pemantauan objek luar angkasa, terutama yang berada di orbit menengah hingga tinggi. Gray sendiri sebelumnya pernah terlibat dalam prediksi tabrakan objek buatan manusia dengan Bulan, termasuk penelusuran roket bekas pada tahun 2022.
Mengapa Bulan Menjadi Sasaran?
Bulan tidak memiliki atmosfer, artinya tidak ada hambatan udara yang bakal memperlambat jatuhnya roket. Dengan kecepatan tinggi, roket yang terbuat dari logam itu akan langsung menghantam permukaan bulan dengan kecepatan sangat besar. Benturan tersebut dipastikan akan menciptakan kawah baru di Bulan.
Tumbukan seperti ini sebenarnya bisa menjadi kesempatan ilmiah. Menurut sejumlah ilmuwan planet, hantaman objek buatan manusia dapat membantu mereka mempelajari sifat material di bawah permukaan Bulan. Ketika material tercampur akibat tumbukan, instrumen pengorbit seperti Lunar Reconnaissance Orbiter milik NASA dapat mengamati warna spektrum dan komposisi material yang terlempar.
Bukan Yang Pertama, Juga Bukan Yang Terakhir
Peristiwa roket menghantam Bulan sebenarnya pernah beberapa kali terjadi. Pada 2009, misi LCROSS milik NASA sengaja mengarahkan roket tahap atas Centaur untuk menabrak kutub selatan Bulan. Tujuannya adalah untuk mencari jejak es air di area yang selalu tertutup bayangan. Dengan cara itu, para peneliti berhasil mengonfirmasi keberadaan air di kawah-dalam tersebut.
Pada tahun 2022, puing roket Long March 3C milik China juga menabrak permukaan Bulan karena orbitnya tidak terkendali. Berbeda dengan misi LCROSS yang disengaja, peristiwa itu terjadi tanpa kendali dan kembali menegaskan perlunya pemantauan puing antariksa yang berada di orbit tinggi. Kini, giliran roket Falcon 9 dari SpaceX yang diprediksi mengalaminya.
Tidak Berdampak pada Bumi
Tabrakan roket dengan Bulan pada Agustus mendatang tidak menimbulkan bahaya bagi Bumi. Bulan berada pada jarak rata-rata sekitar 384.400 kilometer dari Bumi, sehingga hantaman tersebut tidak akan memengaruhi lingkungan Bumi. Selain itu, sisi Bulan yang akan ditabrak adalah sisi luar yang tidak menghadap Bumi, sehingga warga Bumi tidak akan melihat dampak langsungnya secara visual.
Para astronom tetap berencana mengamati titik tumbukan tersebut menggunakan teleskop luar angkasa. Walaupun tidak ada ledakan yang dapat dilihat langsung, dan gelombang kejut tidak akan merambat karena tanpa atmosfer, namun pantulan cahaya atau debu yang terangkat mungkin dapat direkam oleh satelit yang mengorbit Bulan.
Menurut Bill Gray, setelah tumbukan terjadi, roket tersebut akan menyisakan kawah kecil dengan diameter sekitar beberapa meter. Dengan pengamatan lanjutan, para peneliti berharap bisa mendapatkan data berharga tentang bagaimana benda buatan manusia berinteraksi dengan permukaan bulan yang keras. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa wilayah luar angkasa semakin ramai dengan aktivitas manusia, dan pemantauan terhadap puing antariksa menjadi semakin krusial.



