Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka rangkaian Zikir dan Doa Kebangsaan di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (1/8/2026) malam dengan menyampaikan pesan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Kepada ribuan jemaah yang memenuhi sisi selatan Monas, Nasaruddin menjelaskan bahwa Presiden sebenarnya sangat berkeinginan untuk hadir, tetapi harus menjalankan tugas kenegaraan yang tidak bisa ditinggalkan.
"Sebelum saya melanjutkan, izinkan saya menyampaikan salam hangat dan hormat dari Bapak Presiden RI. Yang sesungguhnya beliau sangat berkeinginan untuk hadir bersama-sama kita pada malam ini," kata Nasaruddin dalam sambutannya.
Prabowo Dihadapkan pada Tugas Kenegaraan
Menurut Nasaruddin, ketidakhadiran Prabowo bukan tanpa alasan. Presiden harus menyelesaikan agenda kenegaraan yang dinilai sangat penting. Hal ini disampaikan Nasaruddin agar seluruh jemaah tidak mengurangi makna kebersamaan dalam doa bersama tersebut.
"Tetapi Insyaallah mudah-mudahan tanpa mengurangi, karena beliau ada juga tugas kenegaraan yang sangat penting dan beliau menyampaikan salam kepada kita semuanya," ucapnya.
Pernyataan Menag itu langsung disambut suasana khidmat dari jemaah yang memadati kawasan Monas. Meski Presiden berhalangan hadir, kegiatan doa bersama tetap berlangsung lancar dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama didampingi sejumlah pimpinan dan tokoh lintas agama.
Jemaah Lintas Agama Penuhi Sisi Selatan Monas
Pantauan di lokasi pukul 19.35 WIB menunjukkan area sisi selatan Monas dipenuhi warga dari berbagai latar belakang. Mereka duduk lesehan di atas tikar dan karpet, membentuk lautan manusia yang membentang dari area sekitar Monas hingga titik-titik yang telah disiapkan panitia.
Kehadiran jemaah tidak hanya dari kalangan Muslim. Sejumlah warga terlihat mengenakan pakaian bernuansa putih dengan udeng Bali atau ikat kepala khas umat Hindu, serta selendang kuning yang melambangkan doa dan harapan. Hal ini mencerminkan semangat kebangsaan dan toleransi antarumat beragama dalam satu forum doa yang sama.
Para jemaah laki-laki dan perempuan tampak tertib. Sebagian besar mengenakan pakaian muslim, sebagian lainnya memakai pakaian tradisional masing-masing. Mereka duduk berdampingan, mengikuti rangkaian zikir dan doa yang dipimpin oleh Nasaruddin Umar bersama para pemuka agama.
Doa Bersama untuk Bangsa dan Pemimpin
Zikir dan Doa Kebangsaan ini menjadi momen refleksi spiritual sekaligus wujud dukungan terhadap pemimpin dan bangsa. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jemaah secara serentak mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan, persatuan, dan kemajuan Indonesia. Kegiatan semacam ini diharapkan memperkuat kohesi sosial di tengah keberagaman.
Pantauan juga menunjukkan sejumlah tokoh dan pejabat hadir mendampingi Menag di panggung utama. Kehadiran mereka menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan ajang mempererat hubungan antarkomponen bangsa.
Monas Jadi Simbol Persatuan dalam Doa
Pemilihan Monas sebagai lokasi zikir dan doa nasional memiliki makna simbolis. Monumen yang menjadi ikon Jakarta dan Indonesia ini menyatukan ribuan orang dari berbagai suku, agama, dan golongan dalam satu suara doa. Warga yang datang sejak sore hari tampak antusias mengikuti jalannya acara meskipun harus duduk di atas aspal area Monas.
Acara Zikir dan Doa Kebangsaan ini berlangsung hingga malam hari. Panitia menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk tempat wudu dan area yang nyaman bagi jemaah lanjut usia. Kebersamaan yang terlihat di Monas menjadi bukti bahwa perbedaan tidak menghalangi masyarakat untuk bersama-sama mendoakan bangsa.
Sementara itu, kehadiran Nasaruddin Umar sebagai pemimpin doa menambah kekhusyukan acara. Beliau tidak hanya menyampaikan pesan Presiden, tetapi juga memimpin langsung lantunan zikir dan doa yang diikuti seluruh jemaah. Suasana semakin terasa khidmat ketika ribuan suara bersatu dalam doa yang sama.
Harapan untuk Keberkahan Bangsa
Zikir dan doa kebangsaan ini menjadi salah satu agenda rutin yang digelar untuk memohon keberkahan dan perlindungan bagi Indonesia. Dengan jumlah jemaah yang memenuhi area Monas, terlihat jelas bahwa masyarakat haus akan kegiatan spiritual yang mempersatukan. Tidak ada sekat politik maupun perbedaan keyakinan dalam acara ini, semuanya duduk sama rata sebagai anak bangsa.
Menag juga mengajak seluruh jemaah untuk terus mendoakan pemimpin bangsa agar diberikan kekuatan dan kebijaksanaan dalam menjalankan amanah. Hal ini disampaikan dengan harapan agar Presiden Prabowo dan seluruh jajaran pemerintah dapat menjalankan tugas negara dengan baik meskipun harus absen dari kegiatan seperti ini.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, memohon agar Indonesia senantiasa diberi kedamaian dan dijauhkan dari segala mara bahaya. Jemaah yang hadir pun membubarkan diri dengan tertib setelah rangkaian kegiatan selesai. Meski Presiden tidak hadir, pesan dan salam yang disampaikan melalui Menag sukses menjaga hubungan emosional antara pemimpin dan rakyatnya.



