Industri kuliner di Singapura tengah menghadapi tekanan yang luar biasa berat. Sepanjang empat bulan pertama tahun 2025, sebanyak 1.267 restoran dan gerai makanan tercatat menghentikan operasinya. Angka ini menandai salah satu periode tersulit bagi sektor makanan dan minuman (F&B) di negara yang dikenal sebagai negara terkaya kedua di dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita.
Data Penutupan Restoran
Menurut laporan VnExpress International pada 12 Juni 2026, data tersebut berasal dari statistik resmi pemerintah Singapura. Data menunjukkan peningkatan signifikan jumlah penutupan usaha makanan di tengah tekanan biaya operasional yang terus membengkak dan perubahan pola konsumsi masyarakat.
Penyebab Penutupan Massal
Beberapa faktor utama yang menyebabkan gelombang penutupan ini antara lain:
- Kenaikan biaya sewa tempat usaha yang semakin tidak terjangkau.
- Meningkatnya harga bahan baku makanan akibat inflasi global.
- Kesulitan mendapatkan tenaga kerja, baik lokal maupun asing.
- Perubahan kebiasaan konsumen yang lebih memilih layanan pesan-antar atau memasak di rumah.
Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha F&B di Singapura, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pusat kuliner terkemuka di Asia. Pemerintah Singapura diharapkan dapat mengambil langkah-langkah untuk meredakan tekanan pada sektor ini, seperti insentif pajak atau bantuan operasional bagi usaha kecil dan menengah.



