Pekalongan, kota yang dikenal sebagai sentra produksi batik nasional, memiliki makna unik terhadap kondisi sungainya. Dalam acara Penutupan Fellowship on CSR Batch 3 di Rumah Batik PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Pekalongan, pada Rabu (8/7/2026), Faisal, trainer Rumah Batik TBIG, menyatakan bahwa air sungai yang keruh justru menjadi pertanda ekonomi sedang berjalan.
Makna Sungai Keruh di Pekalongan
"Kalau air sungainya keruh, itu berarti tanda ekonominya sedang jalan," ujar Faisal. Pernyataan ini mungkin terdengar janggal karena sungai keruh lazimnya dikaitkan dengan pencemaran. Namun, di Pekalongan, keruhnya aliran sungai sering dimaknai sebagai indikasi aktivitas membatik yang sedang ramai. "Pekalongan sendiri dijuluki sebagai kota batik, bahkan dapurnya batik. Ya mungkin bisa dilihat dari sungai di Pekalongan, kalau sungainya keruh itu berarti ekonominya jalan," tambah Faisal.
Sistem Pengolahan Limbah Batik
Penjelasan tentang sungai keruh tidak berhenti sebagai cerita. Di salah satu sudut halaman Rumah Batik TBIG, terdapat area berupa bak penampungan air yang saling terhubung, yang merupakan bagian dari sistem pengolahan limbah batik. Sistem ini dirancang untuk mengurangi jejak limbah yang masuk ke sungai, sehingga meskipun aktivitas membatik tinggi, dampak pencemaran dapat diminimalkan.
Upaya Mengurangi Jejak Limbah
Keberadaan sistem pengolahan limbah ini menunjukkan komitmen TBIG dalam menjaga lingkungan. Dengan adanya pengolahan limbah, diharapkan warna keruh sungai tidak semata-mata akibat limbah batik yang tidak terkelola, melainkan tetap menjadi simbol ekonomi yang berjalan seiring dengan praktik ramah lingkungan.



