Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI menggelar Focus Group Discussion (FGD) Nasional Penyusunan Roadmap Sistem Pengobatan Tradisional Nusantara (TAWARUPA) di Graha Utama Gedung A Lantai 3, Komplek Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Acara yang dibuka Menteri Kebudayaan Fadli Zon ini menjadi langkah awal merumuskan arah kebijakan nasional pengembangan sistem pengobatan tradisional berbasis ilmu pengetahuan, berakar budaya, dan berdaya saing global.
Warisan Budaya Hidup dan Strategi Global WHO
Fadli Zon menegaskan bahwa pengobatan tradisional merupakan warisan budaya hidup yang diwariskan lintas generasi melalui bahasa, manuskrip, praktik, dan ingatan para pelaku. Hal ini sejalan dengan strategi global WHO yang mendorong penguatan bukti ilmiah, keamanan, mutu, serta penghormatan terhadap warisan budaya dan hak masyarakat pemilik pengetahuan.
“Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Nusantara bukan sekadar penerima pengetahuan dari luar. Sejak masa sejarah awal, masyarakat Indonesia telah mengembangkan pengetahuan untuk bertahan hidup, merawat sesama, dan beradaptasi dengan lingkungan tropis yang sangat kompleks,” kata Fadli Zon dalam keterangan tertulis, Rabu (22/7/2026).
Dorong Fitofarmaka Kurangi Ketergantungan Obat Impor
Menurut Fadli, penguatan kesehatan masyarakat harus beriringan dengan visi pembangunan nasional melalui hilirisasi kearifan lokal. Indonesia memiliki modal budaya dan sumber daya alam besar untuk mengembangkan pengetahuan tradisional menjadi inovasi bernilai tambah. Salah satunya melalui fitofarmaka—obat berbahan alam yang telah lulus uji praklinis dan klinis.
“Karena itu, saya mendorong lebih banyak lagi fitofarmaka, obat berbahan dasar alam yang telah melalui uji praklinis dan klinis sebagai jembatan antara kearifan lokal dan sains bioteknologi Indonesia. Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan fitofarmaka sebagai salah satu keunggulan kompetitif di bidang kesehatan, serta dapat menjadi alternatif dari ketergantungan kita terhadap obat impor,” ujarnya.
Pengakuan UNESCO dan Potensi Strategis
Pengakuan Jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO pada 2023 semakin menegaskan bahwa pengetahuan pengobatan tradisional Indonesia adalah bagian penting identitas budaya bangsa. Pengetahuan ini memiliki nilai sosial, ilmiah, ekonomi, dan diplomatik yang berpotensi dikembangkan sebagai aset strategis pembangunan nasional.
“Berangkat dari hal tersebut, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual menyelenggarakan FGD TAWARUPA sebagai upaya mendorong keberlanjutan pengetahuan tradisional sekaligus membuka peluang pengembangannya sebagai aset strategis yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan mendukung pembangunan nasional,” jelas Fadli.
Kolaborasi Lintas Sektor Menuju Indonesia Emas 2045
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menyampaikan bahwa FGD ini merupakan bagian dari upaya menyusun konsep TAWARUPA sebagai kerangka nasional yang menghimpun praktik pengobatan tradisional dalam sistem modern, inklusif, dan berbasis riset. Forum ini diinisiasi oleh Kemenbud dan Bappenas untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Forum diskusi ini diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan dan Bappenas untuk menjawab pertanyaan ini. Inisiasi tersebut juga melingkupi diskusi terkait penyusunan konsep TAWARUPA sebagai kerangka nasional yang menghimpun berbagai praktik pengobatan tradisional Nusantara dalam satu sistem yang modern, inklusif, dan berbasis riset,” tutup Restu.
Turut hadir dalam FGD tersebut: Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes Lucia Rizka Andalucia; Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenbud I Made Dharma Suteja; perwakilan BPOM William Adi Teja; serta praktisi kesehatan dr. Anna Rozaliyani, Fitri Puspadewi (Bio Farma Group), praktisi pengobatan tradisional Gunartho, dan budayawan Ki Jatnika Nanggamihardja.



