Kisah Relawan Indonesia Sebelum Berlayar ke Gaza: Doa dan Restu Keluarga
Kisah Relawan Indonesia Sebelum Berlayar ke Gaza

Sebuah pertanyaan sederhana dari sang anak terus terngiang di kepala As'ad Aras saat kapal Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 perlahan meninggalkan Pelabuhan Albatros, Marmaris, Turki, pada Kamis (14/5/2026). Pertanyaan itu dilontarkan sesaat sebelum relawan asal Indonesia tersebut berlayar bersama ratusan aktivis kemanusiaan internasional menuju Jalur Gaza untuk menembus blokade ilegal Israel.

"Abah kalau sudah dari Gaza, abah balik lagi ke rumah kan?" kata As'ad menirukan pertanyaan anaknya. As'ad, yang merupakan relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sempat menghubungi keluarga sebelum kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. Di tengah suasana haru keberangkatan misi kemanusiaan itu, ia mengaku keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar selama perjalanan.

"Orang tua, istri, dan keluarga sangat mendukung perjalanan ini," ujar As'ad. Saat pelayaran benar-benar dimulai, keluarga di rumah merasa terharu sekaligus bersyukur karena dirinya bisa menjadi bagian dari perjuangan kemanusiaan untuk Gaza. Di tengah kekhawatiran akan risiko perjalanan laut menuju wilayah konflik, keluarganya hanya terus memanjatkan doa. "Mereka mendoakan agar Allah menjaga keselamatan, kesehatan, dimudahkan sampai ke Gaza dan kembali lagi ke Indonesia dengan selamat," katanya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Nasihat Istri dan Doa Ibu yang Menyentuh

Di antara berbagai pesan keluarga, As'ad mengaku nasihat sang istri menjadi yang paling membekas. Sang istri memintanya untuk terus meluruskan niat selama menjalankan misi. "Istri berpesan agar saya ikhlas semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Karena perjalanan ini bukan tentang diri sendiri, tapi ibadah, amanah kemanusiaan, dan perjuangan untuk saudara-saudara kita di Gaza," ujarnya.

Namun, ada satu doa yang menurutnya terasa sangat menyentuh sebelum keberangkatan, yaitu doa sang ibu. "Beliau berdoa agar saya ditempatkan di kapal yang besar dan aman. Alhamdulillah Allah ijabah doa itu," kata As'ad. Dengan doa tersebut, ia merasa restu orang tua dan keluarga menjadi kekuatan besar selama perjalanan menuju Gaza.

Menanamkan Kepedulian kepada Anak

Sementara sebagai seorang ayah, As'ad mengaku sejak lama berusaha menanamkan kepedulian terhadap Palestina kepada anak-anaknya. Ia sering menjelaskan bahwa anak-anak di Gaza hidup dalam penderitaan dan membutuhkan pertolongan. Karena itu, saat dirinya memutuskan ikut berlayar, anak-anaknya memahami bahwa sang ayah sedang pergi membantu warga Gaza.

Meski demikian, ia tak menampik bahwa meninggalkan keluarga menjadi hal yang paling berat dalam perjalanan ini. Jika sewaktu-waktu komunikasi terputus di tengah laut, sosok yang paling ia khawatirkan tetap istri dan anak-anak di rumah. "Yang paling saya khawatirkan tentu istri dan anak-anak. Tapi kami semua berusaha menitipkan semuanya kepada Allah, sebaik-baik penjaga," tuturnya.

Bagi As'ad, perjalanan menuju Gaza bukan sekadar tentang keberanian menghadapi risiko di laut lepas. Lebih dari itu, perjalanan tersebut adalah bentuk tawakal sebagai seorang muslim, juga tentang keluarga yang ditinggalkan, doa-doa yang terus mengiringi, dan keyakinan bahwa selalu ada Allah yang menjaga di setiap langkah pelayaran mereka menuju Gaza.

Misi Mulia As'ad dan Ratusan Relawan

Sebagaimana diketahui, sembilan delegasi Indonesia turut bergabung dengan misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0. Bersama 500 relawan dan aktivis yang berasal dari 45 negara, mereka akan berlayar menembus blokade ilegal Israel dan mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina.

Delegasi Indonesia terdiri dari lima relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dan empat jurnalis yang tersebar di sejumlah kapal armada GSF. Lima relawan GPCI yang ikut dalam pelayaran yakni Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu yang berada di Kapal Zapyro. Sementara Andi Angga Prasadewa bergabung di Kapal Josef. Adapun Asad Aras Muhammad dan Hendro Prasetyo berada di Kapal Kasr-1. Sedangkan empat jurnalis Indonesia yang turut dalam misi tersebut yakni Bambang Noroyono di Kapal BoraLize. Kemudian Thoudy Badai, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo berada di Kapal Ozgurluk.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga