Lengkingan peluit kereta masih memecah kesibukan Stasiun Tanah Abang pada jam-jam sibuk. Di peron Green Line, ratusan penumpang berdesakan mengejar gerbong. Jauh sebelum riuh rendah itu, rel yang sama pernah dilalui Fatmawati, istri ketiga Sukarno, dalam perjalanan penuh haru menemui suaminya. Jalur yang kini menjadi urat nadi mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya ini menyimpan sepenggal kisah cinta yang mewarnai sejarah bangsa.
Telegram Rahasia dan Pernikahan Jarak Jauh
Semua bermula pada 1943, ketika Sukarno tengah diasingkan di Batavia oleh pemerintah pendudukan Jepang. Fatmawati, perempuan muda asal Bengkulu, menerima sebuah telegram berbahasa Jepang yang mengubah hidupnya. Isi telegram itu bukanlah untaian kata mesra, melainkan sebuah instruksi lamaran yang tegas: “Fatmawati, nikah dengan wakil; yaitu Saudara opseter Sarjono, tanggal 1 Juni 1943 berangkat ke Jakarta.”
Kabar itu sempat memicu kegundahan di keluarga Fatmawati. Sang ayah, Hasan Din, merasa ragu menikahkan putri kesayangannya tanpa kehadiran calon mempelai pria. Namun, tekad dan keyakinan akhirnya mengalahkan keraguan. Basarudin, datuk Fatmawati, bertindak sebagai wali nikah, sementara Opseter Sarjono ditunjuk mewakili Sukarno dalam akad yang dilangsungkan jarak jauh. Pernikahan ini menjadi titik awal perjalanan panjang Fatmawati meninggalkan tanah kelahirannya.
Menyeberangi Selat, Merawat Rindu di Atas Rel
Setelah resmi menjadi istri Sukarno, Fatmawati harus segera berangkat ke Jakarta. Bersama keluarganya, ia memulai perjalanan yang melelahkan dari Bengkulu menuju Pulau Jawa. Rombongan terlebih dahulu menumpangi kereta api menuju Lubuk Linggau, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Pelabuhan Teluk Betung. Dari sana, mereka menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Merak.
Di tengah laut, Fatmawati tidak kuasa menahan haru. Dalam buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno, ia menuliskan isi hatinya: “Kapan aku akan kembali mengunjungi Bengkulu, daerah kelahiranku, di mana Datukku kutinggalkan?” Kalimat itu menjadi saksi betapa beratnya pengorbanan seorang istri yang harus meninggalkan kampung halaman demi cinta.
Setibanya di Pelabuhan Merak, rombongan Fatmawati dijemput menggunakan mobil menuju Rangkasbitung. Di kota kecil itu, mereka menginap di kediaman seorang camat yang mengenal Sukarno. Malam harinya, tuan rumah sempat meragukan status Fatmawati. Ia tahu dari koran bahwa Sukarno sedang melakukan safari politik di Jawa Timur. Dengan tutur kata santun, Fatmawati menjelaskan pernikahan wali yang baru saja dilangsungkan. Ketakjuban dan haru pun menyelimuti ruang makan sederhana itu.
Tiba di Tanah Abang, Menanti Sang Proklamator
Keesokan harinya, tepat pukul 11.00 siang, keluarga camat mengantar Fatmawati ke Stasiun Rangkasbitung. Kereta perlahan bergerak menuju Tanah Abang, meninggalkan hamparan sawah dan pepohonan yang berganti pemandangan. Dua jam perjalanan terasa seperti selamanya bagi Fatmawati yang membayangkan pertemuan dengan Sukarno. Rel Rangkasbitung–Tanah Abang menjadi saksi bisu detik-detik yang mendebarkan itu.
Sesampainya di Stasiun Tanah Abang, sejumlah tokoh pergerakan telah menunggu. Mereka adalah Mr. Sartono, Nyonya Prawoto, dan Ir. Sakirman, yang datang atas perintah Sukarno. Fatmawati dan keluarga diantarkan ke kediaman Hoofdbestuur Muhammadiyah, Kiai Mas Mansyur, di Jalan Waringin. Seminggu lamanya Fatmawati menanti dengan sabar hingga Sukarno menyelesaikan tugas politiknya di Jawa Timur.
Pukul 17.00 WIB saat langit Jakarta mulai jingga, Sukarno akhirnya tiba di rumah Kiai Mas Mansyur. Suasana hangat langsung menyelimuti pertemuan itu. Tanpa mobil mewah, Sukarno mengajak Fatmawati menaiki becak menuju kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Tiga hari kemudian, Fatmawati diperkenalkan kepada mertua, keluarga besar, serta kawan-kawan perjuangan Sukarno. Sejak saat itu, mereka resmi membina rumah tangga.
Cinta yang Tumbuh di Masa Pengasingan
Kisah cinta ini bukan muncul secara tiba-tiba. Mohammad Hatta dalam buku Memoir mencatat bahwa benih-benih cinta telah bersemi ketika Sukarno menjalani pengasingan oleh kolonial Belanda di Bengkulu. Pesona dan keteguhan Fatmawati berhasil menaklukkan hati sang tokoh pergerakan. Namun, jalan menuju pelaminan tidaklah mulus. Saat jatuh hati kepada Fatmawati, Sukarno masih terikat pernikahan dengan Inggit Garnasih yang setia mendampinginya di masa-masa sulit.
Meski begitu, takdir berkata lain. Perjalanan Fatmawati dari Bengkulu ke Jakarta melalui jalur rel yang kini menjadi Green Line bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan simbol perjuangan cinta dan pengabdian kepada sang Proklamator. Hingga kini, setiap kereta yang melintas dari Rangkasbitung ke Tanah Abang membawa serta kenangan akan seorang perempuan yang rela meninggalkan segalanya demi mendampingi Bung Karno.
Jalur Green Line tidak hanya menjadi saksi bisu rutinitas komuter, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Ketika para penumpang duduk di gerbong, mereka mungkin tidak menyadari bahwa di titik yang sama, lebih dari delapan dekade lalu, seorang Fatmawati pernah melewati perjalanan yang mengubah sejarah Indonesia.



