SMAN 2 Nabire Juara LCC 4 Pilar Papua Tengah, Melaju ke Final Nasional
SMAN 2 Nabire Juara LCC 4 Pilar, Melaju ke Final

Aula Gereja Katolik KSK, Distrik Nabire, menjadi saksi keberhasilan SMA Negeri 2 Nabire menjuarai Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Papua Tengah. Dengan total 125 poin pada babak final, regu asal Kabupaten Nabire itu memastikan diri melaju ke Final Nasional di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada pertengahan Agustus 2026.

Ajang Penguatan Nilai Kebangsaan

LCC Empat Pilar MPR RI merupakan program tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk menguji wawasan siswa tentang Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhinneka Tunggal Ika. Di tingkat Provinsi Papua Tengah, babak penyisihan hingga final digelar di Aula Gereja Katolik KSK, Distrik Nabire, pada Sabtu kemarin. Sebanyak sembilan sekolah terbaik yang lolos seleksi kabupaten/kota saling beradu kemampuan.

Setiap regu harus menguasai materinya secara mendalam. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak hanya menguji hafalan, tetapi juga pemahaman kontekstual tentang nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pun membuat persaingan berlangsung ketat sejak babak awal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Hasil Final dan Pernyataan Juri

Memasuki babak final, SMAN 2 Nabire sukses mengumpulkan nilai tertinggi dengan total 125 poin dan keluar sebagai juara pertama. Pencapaian ini sekaligus membalas kegagalan mereka pada penyelenggaraan tahun sebelumnya. Di bawah mereka, SMA YPPK Adhi Luhur meraih 110 poin untuk posisi kedua, sedangkan SMAN 1 Nabire menempati posisi ketiga dengan 85 poin.

Dewan Juri Daerah, Ebit Rusali, mengumumkan hasil tersebut pada Minggu, 2 Agustus 2026. "Dengan demikian, Regu A dari SMA Negeri 2 Nabire keluar sebagai pemenang pada babak final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Tingkat Provinsi Papua Tengah. Selamat kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan kemampuan terbaiknya," ujarnya. Pengumuman ini disambut suka cita oleh para pendukung yang hadir di aula tersebut.

Sportivitas dari Sekolah Lain

Kegembiraan juga dirasakan oleh sekolah-sekolah lain meski harus mengakui keunggulan SMAN 2 Nabire. Perwakilan SMAN 1 Nabire mengaku bersyukur bisa ikut serta karena mendapat banyak pengalaman baru. "Kami mengucapkan terima kasih kepada MPR RI yang telah menyelenggarakan lomba ini sehingga kami dapat menambah wawasan mengenai Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kami mohon maaf kepada seluruh pendukung karena belum mampu memberikan hasil terbaik. Namun kami percaya, apa yang sudah tertakar tidak akan tertukar," ungkapnya.

Hal serupa disampaikan perwakilan SMA YPPK Adhi Luhur. "Kami bersyukur dapat berdiri hingga di titik ini. Terima kasih kepada panitia, guru pendamping, dan seluruh peserta. Menang dan kalah hanyalah hasil akhir, tetapi semangat belajar dan pengalaman yang kami peroleh jauh lebih berharga," ujarnya. Sikap sportif ini menambah suasana hangat kompetisi.

Perjuangan Guru dan Siswa

Di balik kemenangan SMAN 2 Nabire, ada perjuangan panjang yang tidak mudah. Guru pendamping, Risiputri Budi Nuradelia, mengungkapkan rasa bangganya atas dedikasi anak didiknya. "Tahun lalu kami belum berhasil meraih juara. Namun tahun ini anak-anak tampil luar biasa. Mereka bekerja keras demi mewujudkan impian dapat mewakili Papua Tengah ke tingkat nasional di Jakarta. Bagi kami yang berada di Papua, kesempatan itu merupakan kebanggaan yang sangat besar," tuturnya.

Risiputri bercerita bahwa keterbatasan waktu menjadi tantangan terbesar dalam persiapan. Sebagai guru yang juga ibu dari dua balita, ia kerap harus membawa anak-anaknya ke sekolah agar tetap bisa mendampingi latihan. "Bersama Ibu Rani, kami mendampingi mereka hingga sore hari karena melihat semangat belajar yang luar biasa dari anak-anak," katanya. Pengorbanan tersebut terbayar lunas ketika timnya dinobatkan sebagai juara.

Latihan Intensif Menuju Final Nasional

Kemenangan di tingkat provinsi tidak membuat SMAN 2 Nabire berpuas diri. Risiputri menegaskan bahwa intensitas latihan akan ditingkatkan menjadi setiap hari setelah jam sekolah. "Saya sangat optimistis. Tahun lalu kami hanya menjadi penonton setelah gagal di babak penyisihan. Hari ini kami membuktikan bahwa kami mampu menjadi juara tingkat provinsi. Kami akan bekerja lebih keras lagi agar dapat mengharumkan nama Papua Tengah di tingkat nasional," tegasnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Keyakinan serupa juga diungkapkan oleh anggota tim, Lionel Alexander Woraday. Menurutnya, perjuangan menuju gelar juara sangat menguras tenaga dan pikiran. "Ada masa ketika kami merasa sangat lelah karena harus belajar secara intensif. Kami bahkan beberapa kali mendapatkan dispensasi dari sekolah agar dapat memperbanyak waktu latihan. Semua itu kami jalani demi memberikan hasil terbaik," ujarnya. Kini, fokus Lionel dan rekan-rekannya tertuju penuh ke ajang Final Nasional di Senayan. "Kalau hari ini kami membawa nama sekolah, keluarga, dan Kabupaten Nabire, maka di tingkat nasional kami membawa nama Provinsi Papua Tengah. Karena itu kami akan mempersiapkan diri jauh lebih maksimal lagi," pungkasnya.