Di pinggiran jalan Kota Annaba, Aljazair, ujung timur Afrika Utara, terbaring Hippo Regius, situs arkeologi kota Romawi. Hamparan luas itu bukan hanya tumpukan batu semata, tetapi juga saksi bisu kejayaan, iman, dan perang. detikcom diundang oleh Kementerian Pariwisata dan Kerajinan Tangan Aljazair untuk mengunjungi langsung Hippo Regius pada Minggu (17/5/2026). Kunjungan ini dalam rangkaian kegiatan 25th International Tourism and Travel Fair atau Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV).
Kota Annaba: Mutiara Pantai Timur
Kota Annaba, yang dijuluki sebagai Mutiara Pantai Timur (La Perle de l'Est), adalah salah satu kota pesisir terbesar di Aljazair. Kota ini terletak di ujung timur laut negara ini, dekat dengan perbatasan Tunisia. Annaba memadukan kekayaan sejarah kuno, keindahan alam pegunungan, dan pesona pesisir Laut Mediterania. Sebelum dikenal dengan nama Annaba, kota ini memiliki sejarah panjang yang berpindah tangan dari berbagai peradaban besar. Dahulu, kota ini merupakan pelabuhan utama bangsa Numidia, lalu kemudian menjadi kota Romawi yang makmur.
Perjalanan Menuju Hippo Regius
Perjalanan detikcom dan puluhan jurnalis lain dari berbagai negara dimulai pada pukul 10.00 waktu setempat, dari pusat kota Annaba. Tak butuh waktu lama, setelah kurang lebih 1 jam lamanya terlihat hamparan luas dengan tumpukan batu bekas peninggalan sejarah. Itulah situs arkeologi dan museum Hippo Regius, yang kini menjadi destinasi wisata di Aljazair. Situsnya membentang di lanskap berbukit. Domba merumput di antara reruntuhan, bunga liar tumbuh di sela batu tua. Beberapa bangunan di kompleks ini, dulunya berdiri megah dengan lantai marmer.
Sejarah Panjang Hippo Regius
Sejarah Hippo Regius dimulai jauh sebelum Romawi datang, sekitar abad ke-12 SM, bangsa Fenisia dari Tyre mendirikannya di muara Sungai Seybouse. Pelabuhan alaminya membuat kota ini cepat menjadi pusat perdagangan. Singkatnya, datang bangsa Numidia yang kemudian memberikan nama 'Hippo Regius' sebagai salah satu kediaman raja. "Perjalanan Hippo Regius sangat panjang sebelum akhirnya Romawi datang dan berakhir sebagai situs sejarah seperti saat ini," kata pemandu menjelaskan. Di bawah kekuasaan Romawi, kota ini berkembang menjadi pusat beberapa konsili Kristen awal, tempat pemikiran gereja dibentuk di tengah perdebatan dan doa.
Santo Agustinus dan Basilika
Nama Hippo Regius abadi karena satu orang, Santo Agustinus yang menjabat sebagai uskup di kota ini dari tahun 396 hingga 430 Masehi. Di sinilah ia menulis, berkhotbah, dan merawat jemaatnya sampai wafat, ketika kota dikepung bangsa Vandal. Setelah itu, Hippo Regius bahkan sempat menjadi ibu kota Kerajaan Vandal dari 435 hingga 439 Masehi. "Sebelumnya, Santo Ignatius tinggal di sini di kota. Tapi, ketika dia ingin melakukan beberapa perenungan atau berdoa atau semacamnya, mereka pergi ke gunung di sana untuk berdoa sendirian. Dan dia memiliki sedikit tempat untuk berdoa di sana," kata pemandu. "Dan ketika Prancis datang, mereka ingin membangun sebuah gereja, sebuah basilika di sana. Dan mereka mendominasi semua," jelasnya lagi.
Peradaban yang Berganti
Romawi Timur (Bizantium) sempat merebut kembali kota ini dan menguasainya selama lebih dari satu abad. Pada abad ke-7, pasukan Muslim mengambil alih kota ini. Kota ini berturut-turut dikuasai oleh dinasti-dinasti Muslim lokal seperti Hammadid, Almohad, Zayyanid, hingga Dinasti Hafsid dari Tunisia pada tahun 1250. Singkat cerita, kota ini jatuh ke tangan Prancis yang merupakan rangkaian dari Penaklukan Aljazair yang dimulai sejak jatuhnya kota Algiers pada tahun 1830. Aljazair akhirnya lepas dari tirani Prancis setelah selama 132 tahun, dan memperoleh kemerdekaan pada 5 Juli 1962.
Hippo Regius Kini
Situs Hippo Regius berada tepat di bawah Basilika Santo Agustinus yang megah. Berdiri di reruntuhan Romawi abad ke-4, lalu mendongak dan melihat basilika abad ke-19 yang berdiri di atas bukit membuat dada terasa sesak seolah sejarah tidak pernah benar-benar pergi. Kini, Hippo Regius menjadi buku sejarah terbuka, saksi bisu kejayaan, iman, dan perang bertemu.



