Heru Baskoro, putra tunggal Sayuti Melik—pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia—kini hidup dalam keterbatasan di sebuah kontrakan sederhana di gang sempit di Bekasi. Penglihatannya kabur, diabetes dan demensia mulai menggerogoti, namun ingatan tentang masa kecilnya bersama Megawati Soekarnoputri masih melekat kuat.
Main Gundu dengan Megawati
Di usianya yang ke-84, Heru masih ingat bagaimana ia dan Megawati—putri Presiden Soekarno yang kelak menjadi Presiden ke-5 RI—sering bermain gundu bersama. "Teman kecilnya justru Ibu Megawati itu adalah sama-sama suka main gundu," ujar Treyzia Noviani, istri Heru, kepada Liputan6.com pada Senin (13/7/2026).
Heru tumbuh di lingkungan Istana, akrab dengan keluarga Bung Karno. Namun setelah dewasa, ia tak pernah lagi bertemu Megawati. "Beberapa kali kami coba cari kesempatan untuk mempertemukan, tapi belum berhasil," kata Treyzia.
Disiplin ala Sayuti Melik
Kenangan paling membekas dari sang ayah adalah soal disiplin. "Bapak Sayuti itu orangnya apa disiplin, terlalu keras harus mengikuti aturan," kenang Heru. "Bapak kita pesan aja supaya mengikuti peraturan yang baik dan tidak melanggar peraturan."
Meski tegas, Sayuti juga gemar bermain catur. "Saya itu ingatnya cuma karena beliau suka main catur, jadi saya ikut pintar main catur," ujar Heru sambil tersenyum.
Lebih dari Sekadar Juru Ketik
Menurut Heru, hubungan ayahnya dengan Soekarno bukan sekadar atasan-bawahan. "Pak Sayuti ngomong A, Bung Karno ngomong A. Dia sudah menerjemahkan maksudnya," jelas Heru. Sayuti sering menjadi teman diskusi dan menyiapkan kebutuhan pidato Bung Karno di berbagai daerah. "Baru setelah dewasa saya sadar peran penting ayah di sekitar Bung Karno."
Harta Habis Demi Pengobatan Mata
Heru mulai kehilangan penglihatannya sejak 2016. Kini hanya mata kirinya yang berfungsi. "Yang lihat cuma mata kiri, kanan nggak melihat," katanya. Ia juga menderita diabetes dan gejala demensia.
Sebelum sakit, Heru bekerja sebagai Direktur Keuangan Trans Bakrie dan kemudian di perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat. Pasangan itu sempat menetap di Kanada karena layanan kesehatannya. Namun ketika gangguan mata menyerang, mereka kembali ke Indonesia dan menjual rumah untuk biaya pengobatan. Pada 2021, Heru menjalani transplantasi kornea donor, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. "Jadi kita sudah habis-habisan. Rumah dijual untuk berobat mata suami. Begitu balik lagi ke Kanada, reimburse-nya tidak diturunkan," tutur Treyzia.
Sekarang mereka tinggal di kontrakan sederhana di Bekasi sambil menunggu kesempatan operasi kornea buatan di Kanada. Treyzia setia mendampingi Heru, membantu mengingatkan potongan-potongan cerita yang mulai memudar.



