Kawasan Blok M di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kembali menjadi pusat perhatian. Tempat yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan, kuliner, dan ruang interaksi ini sempat menjadi primadona anak muda Jakarta pada era 1980-an hingga awal 2000-an. Namun, popularitasnya sempat meredup dan mengalami masa mati suri. Kini, dengan hadirnya Moda Raya Terpadu (MRT) dan ruang publik seperti Taman Literasi Martha Christina Tiahahu serta M Bloc Space, Blok M kembali ramai dikunjungi, terutama oleh generasi muda.
Sejarah Pembangunan Blok M
Sejarah Blok M dimulai pada tahun 1940-an saat masa pemerintahan Hindia Belanda. Kawasan Gambir yang menjadi pusat pemerintahan dinilai terlalu padat, sehingga pemerintah kolonial merancang kota satelit baru di Kebayoran. Konsep perumahan meniru tata ruang taman kota di kawasan elite Menteng, dengan pembagian blok abjad dari A hingga S. Blok M ditetapkan sebagai pusat kota.
Setelah pengakuan kedaulatan pada tahun 1949, pemerintah Republik Indonesia melanjutkan rencana tersebut di bawah arsitek Mohammad Soesilo. Kawasan Kebayoran dirancang modern dan terintegrasi, dengan hunian dilengkapi sistem transportasi, kawasan niaga, dan perkantoran. Blok M sengaja dirancang sebagai hub yang menghubungkan wilayah lain.
Era Kejayaan: Pusat Perbelanjaan dan Hiburan
Memasuki dekade 1970-1980, kelas menengah baru tumbuh akibat pertumbuhan ekonomi. Blok M berevolusi menjadi pusat niaga dan hiburan. Terminal Bus Blok M dan menjamurnya pertokoan modern memicu perkembangan pesat. Jalan Melawai dijuluki "Little Tokyo" karena banyak restoran Jepang dan ekspatriat Jepang yang bekerja di Jakarta. Bagi anak muda, Blok M menjadi kiblat tren dengan hadirnya Aldiron Plaza dan American Hamburger (AH). Lintas Melawai berfungsi sebagai ruang publik untuk unjuk status sosial.
Masa Mati Suri
Memasuki awal 2000-an, tren perbelanjaan bergeser ke mal-mal besar dan megah. Blok M mulai kehilangan pamor karena dianggap tidak mampu mengakomodasi selera kelas menengah atas. Pedagang lama seperti Faris (31) merasakan penurunan sejak 2013, dan mencapai titik terendah pada 2018. Pandemi COVID-19 semakin memperparah keadaan, dengan pembatasan mobilitas dan anjloknya kunjungan. Pedagang mie ayam bakso, Amin (38), menyebut pandemi sebagai krisis global yang membuat orang enggan berbelanja.
Kebangkitan Kembali
Setelah masa sulit, Blok M kembali bangkit. Faktor utama adalah aksesibilitas infrastruktur transportasi, terutama beroperasinya MRT Jakarta pada 2019 yang terintegrasi dengan TransJakarta. Selain itu, pergeseran gaya hidup anak muda dan strategi penataan kota yang memanfaatkan nilai sejarah turut mendorong kebangkitan. Bangunan-bangunan lama dialihfungsikan tanpa menghilangkan bentuk aslinya, menciptakan daya tarik baru bagi pengunjung.



