Taktik Licik Mahapati: Kisah Penyingkiran Pejabat Majapahit Lewat Fitnah
Taktik Licik Mahapati: Penyingkiran Pejabat Majapahit

Kilas Balik Siasat Penyingkiran Pejabat Penting Lewat Fitnah Keji di Majapahit

Kisah perebutan kekuasaan dengan cara-cara licik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah, bahkan sejak era Kerajaan Majapahit. Salah satu contoh paling mencolok adalah penyingkiran pejabat-pejabat penting melalui fitnah keji yang berakhir dengan penumpasan berdarah. Berdasarkan Pararaton yang direkonstruksi oleh Otto Sukatno, CR, dan Untung Mulyono, setidaknya tiga tokoh utama Majapahit menjadi korban dari taktik kotor ini, yang dipelopori oleh Pati Halayudha atau Mahapati Halayudha. Ambisinya untuk menjadi Mahapatih mendorong serangkaian intrik yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 1295 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Raden Wijaya.

Pemberontakan Ranggalawe: Awal Mula Intrik

Kisah penyingkiran pertama berpusat pada Ranggalawe, putra Arya Wiraraja, adipati Sungeneb yang turut berjasa mendirikan Kerajaan Majapahit. Konflik bermula ketika empu Nambi diangkat sebagai patih mangkhubumi, padahal sebelumnya Ranggalawe dijanjikan jabatan tersebut. Akibatnya, Ranggalawe hanya diangkat sebagai adipati Tuban, memicu keiriannya terhadap Nambi meski telah berkontribusi dalam pembukaan hutan Tarik dan pengusiran tentara Tartar.

Mahapati memanfaatkan situasi ini dengan melaporkan rencana pemberontakan Ranggalawe kepada kerajaan. Pasukan kerajaan kemudian dikerahkan, dan Ranggalawe tewas terbunuh oleh senapati Kerajaan Singasari, Mahisa Anabrang, yang juga mendukung Majapahit. Kematian ini menjadi pemicu bagi rangkaian intrik selanjutnya.

Penyingkiran Lembu Sora: Balas Dendam yang Berujung Maut

Lembu Sora, paman Ranggalawe, tidak menerima kematian keponakannya. Ia mengetahui bahwa Ranggalawe dibunuh di tepi Sungai Tambakberas, sehingga membalas dengan menikam Mahisa Anabrang hingga tewas. Tiga tahun setelah pemberontakan Ranggalawe, Mahapati kembali beraksi dengan memfitnah Sora.

Melalui diplomasi liciknya, Mahapati menyebarkan kabar bahwa Anabrang ditusuk dari belakang oleh Lembu Sora. Cerita ini sampai ke telinga raja dan putra Mahisa Anabrang, Mahisa Atura. Sementara itu, Mahapati memberi tahu Sora bahwa ia akan mendapat tugas khusus dari raja, sementara raja diyakinkan bahwa Sora berencana memberontak. Akibatnya, bentrokan tak terhindarkan, dan Sora yang mengira akan menerima tugas justru diserang hingga tewas.

Penyingkiran Nambi: Fitnah Terakhir yang Mematikan

Intrik Mahapati berlanjut dengan menargetkan Pati Nambi. Awalnya, Nambi meminta izin raja untuk mengunjungi ayahnya, Pranaraja, di Lumajang. Saat tiba, ayahnya telah meninggal, dan kabar duka ini sampai ke kerajaan. Mahapati diutus untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi ia memberi saran kepada Nambi untuk memperpanjang cuti duka.

Namun, ini hanyalah bagian dari rencana licik Mahapati. Ia kemudian melaporkan ke kerajaan bahwa Nambi berencana memberontak, yang berujung pada penumpasan Nambi oleh pasukan Majapahit. Setelah berhasil menyingkirkan para rivalnya, diperkirakan pada tahun 1316, Mahapati akhirnya diangkat oleh Raja Jayanagara sebagai mahapatih baru, mengukuhkan posisinya dalam hierarki kekuasaan.

Kisah-kisah ini mengingatkan betapa strategi fitnah dan intrik politik telah lama menjadi alat dalam perebutan kekuasaan, bahkan di era kerajaan kuno seperti Majapahit. Pelajaran sejarah ini tetap relevan untuk memahami dinamika politik yang kompleks hingga saat ini.