Kekhawatiran akan hilangnya lapangan pekerjaan akibat kecerdasan buatan (AI) semakin mengemuka di berbagai kalangan. Namun, Rektor Binus University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., memberikan perspektif berbeda. Dalam sosialisasi program beasiswa tahun 2027 di Kampus Binus Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026), ia mengungkapkan data yang mengejutkan namun optimistis.
Data Optimistis di Tengah Kekhawatiran AI
Dr. Nelly mengakui bahwa gelombang AI memang akan menghilangkan sejumlah pekerjaan. "Tentu gelombang ini akan menggantikan, 77 juta pekerjaan akan digantikan, tetapi 100 (juta) lebih pekerjaan baru juga akan muncul dari sini. Jadi tidak usah khawatir," ujarnya. Pernyataan ini merujuk pada proyeksi global yang kerap dikaitkan dengan laporan World Economic Forum, meskipun ia tidak menyebutkan sumber spesifik. Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun terjadi pergeseran, jumlah pekerjaan baru justru lebih banyak dari yang hilang.
Dampak AI terhadap Berbagai Sektor
Pekerjaan yang diperkirakan tergantikan meliputi peran administratif, manufaktur, dan layanan pelanggan yang bersifat repetitif. Sementara itu, pekerjaan baru akan muncul di bidang pengembangan AI, analisis data, keamanan siber, dan ekonomi digital. Dr. Nelly menekankan pentingnya adaptasi melalui pendidikan dan pelatihan ulang. "Kuncinya adalah kesiapan sumber daya manusia. Pendidikan harus mampu menjembatani kesenjangan keterampilan," tambahnya.
Peran Universitas dalam Era AI
Binus University, sebagai institusi pendidikan, terus berupaya menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri. Program beasiswa 2027 yang disosialisasikan merupakan salah satu upaya untuk mendorong mahasiswa mengembangkan kompetensi di bidang teknologi dan inovasi. Dr. Nelly berharap bahwa lulusan tidak hanya siap menghadapi perubahan, tetapi juga menjadi pencipta lapangan kerja baru.
Kesiapan Indonesia Menghadapi Revolusi AI
Indonesia perlu mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan dan pelatihan vokasi. Pemerintah dan swasta harus berkolaborasi dalam menyediakan program reskilling dan upskilling. Dr. Nelly mencontohkan, banyak perusahaan rintisan (startup) yang membutuhkan talenta AI, namun pasokan masih terbatas. "Ini peluang besar bagi generasi muda," tegasnya.
Dengan proyeksi lebih dari 100 juta pekerjaan baru, optimisme Dr. Nelly menjadi angin segar di tengah kekhawatiran global. Namun, ia mengingatkan bahwa tanpa persiapan matang, Indonesia bisa kehilangan momentum. "Pekerjaan lama mungkin hilang, tapi yang baru menanti. Jangan takut, bersiaplah," pungkasnya.



