Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan telah mencegat sejumlah drone yang diluncurkan oleh kelompok pro-Iran di Irak. Drone-drone tersebut menargetkan fasilitas minyak di wilayah timur Arab Saudi dan ibu kota Riyadh. Pernyataan resmi yang diunggah di media sosial menyebut aksi ini sebagai 'upaya teroris' yang dilakukan oleh milisi yang didukung Iran dari wilayah Irak.
Desakan Saudi kepada Irak
Pemerintah Arab Saudi menuntut Irak untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna mencegah penggunaan wilayahnya sebagai titik peluncuran serangan. Tuntutan ini disampaikan melalui pernyataan terpisah yang dipublikasikan oleh penyiar resmi Saudi. Sejak gencatan senjata antara AS dan Iran mulai berlaku pada 25 Juli setelah 13 hari baku tembak, serangan-serangan ini merupakan yang pertama kali terjadi.
Kelompok bersenjata pro-Iran yang berbasis di Irak belum mengklaim bertanggung jawab atas serangan terbaru ini. Sebelumnya, Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya menuduh milisi pro-Iran di Irak melancarkan gelombang serangan selama fase awal konflik antara AS dan Iran.
Klaim Houthi dan Blokade Laut
Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan drone terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi. Serangan ini disebut sebagai respons atas serangan drone kerajaan Saudi terhadap posisi Houthi. Houthi juga mengumumkan pemberlakuan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Riyadh hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait klaim Houthi tersebut.
Ketegangan terbaru ini menandai pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir kedua pihak saling menyerang secara langsung. Hal ini mengancam gencatan senjata tahun 2022 yang sebelumnya tetap berlaku dalam konflik Yaman. Koalisi militer pimpinan Saudi telah berperang melawan Houthi sejak 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Serangan-serangan ini terjadi di tengah jeda pertempuran setelah 13 hari baku tembak antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, Arab Saudi beberapa kali menjadi sasaran Iran dan sekutunya selama puncak perang Timur Tengah. Situasi ini menunjukkan kerentanan infrastruktur minyak Saudi di tengah ketegangan regional yang belum mereda.
Dampak terhadap Stabilitas Regional
Insiden ini berpotensi meningkatkan ketegangan antara Arab Saudi dan Irak, serta memperburuk hubungan dengan Iran. Analis menilai bahwa serangan dari Irak menjadi tantangan baru bagi Riyadh karena melibatkan negara tetangga. Sementara itu, klaim Houthi menambah dimensi lain dalam konflik multipolar di Timur Tengah. Masyarakat internasional mengkhawatirkan eskalasi lebih lanjut yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Arab Saudi terus memantau perkembangan dan menyerukan tindakan tegas terhadap kelompok yang bertanggung jawab. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Irak mengenai tuntutan Saudi. Sementara itu, Houthi tetap pada pendiriannya bahwa serangan drone adalah bentuk perlawanan terhadap agresi Saudi.



