Iran: Satu Kapal Tanker Meledak di Selat Hormuz, Dua Lainnya Berbalik
Kapal Tanker Meledak di Selat Hormuz, Iran Klaim Kendali

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan bahwa pihaknya menghentikan tiga kapal tanker minyak yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Insiden ini terjadi di tengah persaingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk menguasai jalur pelayaran vital tersebut.

Dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, IRGC menyebutkan bahwa tiga kapal tanker tersebut diprovokasi oleh tentara Amerika yang membunuh anak-anak dan mencoba melewati rute yang dipasangi ranjau di selatan Selat Hormuz.

Ledakan dan Pembalikan Arah

IRGC melaporkan bahwa salah satu kapal tanker meledak dan terbakar saat melintas di lepas pantai Oman. Dua kapal lainnya segera berbalik arah setelah ledakan tersebut. "Tetapi setelah salah satunya meledak dan terbakar, dua lainnya dengan cepat berbalik dan kembali," demikian bunyi pernyataan IRGC.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pernyataan tersebut tidak menyebutkan kapan persisnya insiden itu terjadi. Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendalinya, dan IRGC mengancam kapal mana pun yang mencoba melintas tanpa koordinasi akan mengalami nasib yang sama.

Latar Belakang Konflik

Dalam beberapa minggu terakhir, Iran telah menyerang kapal tanker yang menggunakan rute di sepanjang pantai Oman untuk melintasi selat tersebut. Langkah ini bertujuan memaksa kapal-kapal menggunakan perairan Iran dan membayar untuk jalur aman. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pasokan energi global, dan ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat.

Serangan Houthi di Laut Merah

Sementara itu, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sebuah kapal menjadi sasaran serangan 70 mil laut dari pantai Saudi, menyebabkan kebakaran di dalamnya. Belum diketahui adanya korban jiwa di antara awak kapal.

Kelompok Houthi mengklaim melakukan operasi besar terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah, yaitu 'Encelia' dan 'Layla'. Mereka menyerang kedua kapal tersebut dengan rudal jelajah, rudal balistik, dan drone secara bersamaan, menyebabkan bola api besar dan kehancuran.

Houthi menggambarkan serangan itu sebagai bagian dari kampanye balas dendam terhadap Arab Saudi, menyebutnya sebagai "pengepungan untuk pengepungan". Mereka mengklaim sudah 12 tahun Arab Saudi mengepung rakyat Yaman dan kini saatnya membalas. Serangan ini menyebabkan gangguan besar pada jalur pasokan di Selat Bab al-Mandab, jalur utama lainnya untuk pasokan energi global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga