Militer Kuwait dan Bahrain mengonfirmasi bahwa wilayah mereka kembali menjadi sasaran serangan udara dari Iran, memperburuk ketegangan yang sudah memanas di kawasan Teluk. Serangan ini terjadi di tengah saling serang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) dalam perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital bagi ekspor minyak dan gas bumi.
Kuwait dan Bahrain Laporkan Serangan Drone
Dilansir AFP, Kamis (16/7/2026), tentara Kuwait menyatakan mereka merespons serangan drone baru dan menuding agresi Iran sebagai penyebabnya. Seorang jurnalis AFP melaporkan mendengar ledakan di dekat ibu kota Kuwait, Kota Kuwait. Sebelumnya, Kuwait dan Bahrain sama-sama mengklaim bahwa pertahanan udara mereka telah berhasil mengatasi serangan Iran sebelumnya, dengan sirene peringatan berbunyi di Manama, ibu kota Bahrain.
Sasaran Serangan Iran
Iran mengaku menargetkan sistem radar, sistem pertahanan udara, dan fasilitas penyimpanan bahan bakar di Pangkalan Udara Ali al-Salem di Kuwait, serta instalasi militer AS di Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain. Kedua negara Teluk tersebut telah menghadapi serangan berulang dari Iran sejak permusuhan antara Washington dan Teheran kembali memanas pada 7 Juli. Pertempuran ini terjadi meskipun ada kesepakatan gencatan senjata 60 hari pada bulan Juni yang bertujuan mengakhiri perang secara permanen dan membuka kembali Selat Hormuz.
Iran Serang Militer AS, Kuwait dan Bahrain Bantah
Iran menyatakan bahwa serangannya ditujukan kepada militer AS di kawasan tersebut. Namun, Bahrain dan Kuwait membantah dan menuduh Republik Islam itu justru menargetkan situs-situs sipil. Permusuhan telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak sebelum gencatan senjata 8 April. Pertempuran terbaru dipicu oleh penargetan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, yang merupakan jalur air vital bagi ekspor minyak dan gas Teluk.
Dampak Konflik terhadap Stabilitas Kawasan
Konflik yang terus memanas ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas keamanan di Timur Tengah, terutama mengingat Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pasokan energi global. Meskipun ada upaya gencatan senjata, serangan terbaru menunjukkan bahwa ketegangan masih tinggi dan belum ada tanda-tanda penyelesaian damai.



