Bentrokan Kecoak vs Polisi India, Tuntut Mundur Menteri Pendidikan
Bentrokan Kecoak vs Polisi India, Tuntut Mundur Menteri

Demonstrasi yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan berujung bentrokan antara ribuan anggota Cockroach Janta Party (CJP) dan Kepolisian Delhi, Senin (20/7/2026). Aksi dipicu dugaan kebocoran soal ujian masuk kedokteran (NEET) yang memicu kemarahan jutaan pelajar. Sebanyak 118 personel polisi dan 60 demonstran dilaporkan terluka, sementara 70 orang ditahan.

Pendiri CJP Minta Maaf atas Kekerasan terhadap Perempuan

Sehari setelah bentrokan, pendiri CJP Abhijeet Dipke mengunjungi pendukung yang dirawat di rumah sakit di New Delhi. Melalui media sosial X, ia menyampaikan permintaan maaf kepada demonstran yang terluka, terutama perempuan yang menurutnya menjadi korban kekerasan aparat. "Saya meminta maaf kepada seluruh pendukung kami, terutama para perempuan yang dipukuli secara brutal oleh polisi pria. Kami seharusnya bisa berbuat lebih baik. Saya seharusnya bisa melindungi kalian dari tindakan tidak manusiawi polisi Delhi," tulis Dipke.

Ia mengklaim seorang perempuan dalam kondisi kritis setelah terkena pukulan tongkat polisi saat aparat membubarkan massa yang berusaha menerobos barikade menuju parlemen. Pihak berwenang belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut. CJP kemudian membuka pendataan bagi peserta aksi yang ditahan atau menghadapi proses hukum, serta menyatakan akan memberikan bantuan hukum kepada para demonstran.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kamp Protes Dibongkar, Massa Kembali Berkumpul di Jantar Mantar

Sehari setelah bentrokan, para demonstran kembali ke kawasan Jantar Mantar, lokasi aksi duduk selama sekitar satu bulan. Namun, mereka mendapati kamp protes telah dibongkar oleh aparat. Meski demikian, CJP menegaskan aksi tidak akan dihentikan. "Kami tidak akan mundur," kata Dipke kepada para pendukungnya. Juru bicara CJP, Ashutosh Ranka, juga menegaskan, "Kami tidak akan berhenti. Pradhan harus dicopot."

Pada Selasa pagi (21/7), sekitar 150 hingga 200 demonstran kembali berkumpul di lokasi meski hujan gerimis mengguyur New Delhi. Pengamanan di sekitar Jantar Mantar dan kawasan pusat kota Delhi masih diperketat.

Usai Bentrokan, CJP Ubah Strategi Perlawanan

Di tengah meningkatnya ketegangan, CJP memutuskan tidak lagi menggelar mars menuju parlemen. Menurut Dipke, keputusan itu diambil untuk mencegah lebih banyak peserta aksi mengalami luka. "Kami menghentikan aksi kemarin karena tidak ingin lebih banyak anak muda terluka." Ia menambahkan bahwa kelompoknya tidak akan kembali mencoba berjalan menuju parlemen. "Kami tidak akan melakukan mars lagi karena polisi akan kembali melukai anak-anak muda." Meski membatalkan mars, CJP menegaskan aksi duduk akan tetap berlangsung hingga tuntutan pencopotan Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan dipenuhi.

Dari Julukan "Kecoak" hingga Gerakan Protes

Nama Cockroach Janta Party (CJP) lahir sebagai satire terhadap pemerintah India. Julukan "cockroach" muncul setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, membandingkan anak muda yang menganggur dengan kecoak dalam sebuah persidangan. Alih-alih menolak, pendiri CJP Abhijeet Dipke justru mengadopsinya sebagai simbol bahwa kelompok yang dipandang rendah tetap mampu bertahan dan bersuara. Nama itu juga menyindir Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Gerakan yang awalnya berkembang di media sosial meluas menjadi aksi protes terhadap berbagai persoalan anak muda, termasuk dugaan kebocoran soal NEET. CJP menilai kasus tersebut mencerminkan buruknya tata kelola sistem pendidikan dan menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan bertanggung jawab secara politik dengan mengundurkan diri. Sejak akhir Juni, kelompok ini menggelar aksi duduk di Jantar Mantar, New Delhi, sebelum upaya mereka menuju parlemen berujung bentrokan dengan aparat kepolisian.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga