Amunisi AS Menipis Akibat Perang, Pentagon Minta Produsen Mobil Bantu Produksi Senjata
Departemen Pertahanan Amerika Serikat, yang dikenal sebagai Pentagon, dilaporkan telah mendekati para produsen mobil dan perusahaan manufaktur lainnya di AS untuk membantu meningkatkan produksi senjata. Langkah ini diambil menyusul menipisnya persediaan amunisi akibat keterlibatan AS dalam perang melawan Iran dan dukungan militer untuk Ukraina.
Laporan Media Mengungkap Pembicaraan Rahasia
Informasi tersebut diungkap oleh Wall Street Journal dalam laporan terbarunya pada Rabu, 15 April 2026, yang mengutip sejumlah sumber yang memahami situasi terkini. Media terkemuka AS itu melaporkan bahwa para pejabat Pentagon telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah produsen mobil besar, termasuk General Motors dan Ford Motor, serta manufaktur lainnya.
Pembicaraan ini bertujuan untuk mengisi kembali persediaan amunisi yang berkurang drastis, terutama setelah AS dan sekutunya Israel terlibat perang melawan Iran sejak akhir Februari 2026. Menurut laporan, pemerintahan Presiden Donald Trump menginginkan para produsen mobil memainkan peran yang lebih besar dalam produksi militer, dengan pembicaraan yang disebut telah dimulai bahkan sebelum perang berkecamuk.
Pertemuan dengan Eksekutif Industri Otomotif
Dalam upaya memperluas basis industri pertahanan, para pejabat Pentagon telah mengadakan pertemuan dengan para eksekutif senior industri otomotif AS. Pertemuan tersebut melibatkan CEO General Motors Mary Barra dan CEO Ford Motor Jim Farley, serta perwakilan dari perusahaan seperti GE Aerospace dan produsen kendaraan Oshkosh.
Menurut sumber-sumber yang dikutip Wall Street Journal, perang terhadap Iran dan dukungan berkelanjutan untuk Ukraina telah secara signifikan mengurangi persediaan amunisi AS. Oleh karena itu, Pentagon mempertimbangkan untuk melibatkan perusahaan-perusahaan otomotif dalam proses produksi senjata, dengan harapan mereka dapat mendukung kontraktor pertahanan tradisional.
Komitmen Pentagon dan Tantangan Verifikasi
Seorang pejabat Pentagon yang tidak disebutkan namanya menyatakan kepada Reuters bahwa Departemen Pertahanan AS "berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan secara cepat". Komitmen ini termasuk memanfaatkan semua solusi dan teknologi komersial yang tersedia untuk memastikan keunggulan militer AS tetap terjaga.
Namun, Reuters mencatat bahwa mereka tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut secara independen. Pihak General Motors, Ford Motor, GE Aerospace, dan Oshkosh juga belum memberikan tanggapan langsung atas laporan Wall Street Journal tersebut, meninggalkan beberapa aspek dari informasi ini masih dalam konfirmasi.
Latar Belakang Pengeluaran Militer AS
Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022 dan Israel menyerang Jalur Gaza pada tahun 2023, AS telah mengerahkan pasokan senjata senilai miliaran dolar. Pasokan ini mencakup sistem artileri, amunisi, dan rudal anti-tank yang signifikan, yang berkontribusi pada menipisnya stok persenjataan.
Bulan ini, Presiden Trump meminta penambahan anggaran militer besar-besaran sebesar US$ 500 miliar, meningkatkan total anggaran menjadi US$ 1,5 triliun. Permintaan ini diajukan di tengah perang AS melawan Iran, menekankan urgensi untuk memperkuat kapasitas pertahanan nasional. Langkah mendekati produsen mobil ini menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk mengatasi kekurangan amunisi dan memastikan kesiapan militer AS di masa depan.



