Nahtadia Sukses Kembangkan Usaha Ayam Petelur Berkat Kupra BRI, Omzet Capai Rp48 Juta
Nahtadia Sukses Usaha Ayam Petelur Berkat Kupra BRI

Nahtadia, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun asal Cibodas, Jonggol, berhasil mengubah nasib melalui usaha ayam petelur yang dirintisnya sejak 2023. Dengan dukungan pinjaman Kupedes Rakyat (Kupra) BRI sebesar Rp35 juta, ia kini menikmati hasil yang tidak hanya meningkatkan kapasitas usahanya, tetapi juga memenuhi kebutuhan keluarga. Omset kotor usahanya mencapai Rp48 juta per bulan, dengan laba bersih sekitar Rp9 juta per bulan.

Dari Pabrik ke Peternakan Ayam

Sebelum menjadi peternak, Nahtadia bekerja di pabrik tas, sementara suaminya menjalankan warung kecil yang buka pagi di dekat sekolah dan malam di depan lapangan badminton. Tekanan pekerjaan di pabrik mendorongnya untuk mencari alternatif. "Kalau di pabrik banyak tekanan. Saya mikir lebih baik usaha sendiri, sedikit-sedikit dari rumah. Yang penting anak juga bisa terurus," ujarnya. Pada 2023, setelah pandemi, ia memulai usaha ayam petelur di halaman rumah, terinspirasi oleh tetangga yang sudah sukses di bidang serupa.

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan modal bertambah. Pada akhir 2023, Nahtadia diperkenalkan dengan mantri BRI melalui tetangga dan mengajukan pinjaman Kupra BRI sebesar Rp35 juta dengan tenor tiga tahun. Dana itu digunakan untuk membangun kandang dan membeli pakan ternak, saat populasi ayamnya mencapai seribu ekor. Kini, warung suaminya sudah tidak beroperasi, dan usaha ternak menjadi tumpuan utama keluarga.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak Positif bagi Keluarga

Keuntungan dari usaha ayam petelur telah membawa perubahan nyata. Nahtadia bisa membeli televisi baru berukuran 43 inci, menggantikan TV lama yang lebih kecil. "Dulu TV-nya kecil. Sekarang sudah bisa beli yang 43 inci," katanya. Hasil usaha juga membiayai pendidikan anak-anaknya: anak pertama naik ke kelas 2 SD, dan adiknya bersiap masuk PAUD. Selain itu, ia mulai menabung dalam bentuk ternak kambing, saat ini memiliki dua ekor yang dititipkan. "Baru dua sih, tapi alhamdulillah sudah bisa kebeli," tambahnya.

Omzet dan Tantangan Usaha

Dalam sehari, omzet penjualan telur Nahtadia rata-rata Rp1 juta, atau sekitar Rp30 juta per bulan. Namun, angka tersebut belum dipotong biaya operasional. "Kalau lagi bagus, omzet kotor bisa sampai Rp48 juta sebulan. Tapi itu belum dipotong biaya pakan dan kebutuhan lainnya," jelasnya. Pakan menjadi pengeluaran terbesar, mencapai lebih dari Rp30 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya perawatan dan kesehatan ternak, laba bersih rata-rata Rp9 juta per bulan.

Permintaan telur tetap tinggi. Nahtadia tidak perlu repot mencari pembeli karena agen datang langsung ke peternakan dari Cileungsi, Bekasi, dan Depok. Warga sekitar juga membeli eceran. Harga jual ke agen mengikuti pasar, sekitar Rp24 ribu per kilogram, sedangkan eceran Rp26 ribu per kilogram. Agen biasanya mengambil dua peti telur per hari. "Telurnya saja masih kurang. Stok yang ada sekarang sudah terserap," katanya, sehingga ia belum berencana memperluas pemasaran.

Kualitas Telur yang Diminati Agen

Salah satu agen langganan, Rudi, rutin mengambil telur dari Nahtadia sejak 2024. Ia memilih kandang Nahtadia karena kualitas dan kesegaran telur yang terjamin. "Kalau ambil langsung dari kandang sudah terjamin fresh telurnya. Jaraknya juga dekat dari Klapanunggal," ujar Rudi. Sebagai agen, ia tidak mengambil untung besar, menjual sesuai harga pasaran agar pelanggan puas. Dalam sekali ambil, Rudi membawa sekitar 30 peti telur dari beberapa peternak di Cibodas.

Alasan Memilih Kupra BRI

Menurut Kepala Unit BRI Jonggol, Oki Nurcahyadi, Nahtadia tidak bisa mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena masih memiliki fasilitas pinjaman modal kerja dari bank lain. "Pada saat itu Ibu Nahtadia masih memiliki fasilitas modal kerja dari bank lain sehingga tidak bisa menggunakan KUR. Karena itu, pembiayaan kami arahkan ke Kupra," jelas Oki. Perbedaan utama KUR dan Kupra terletak pada jaminan: KUR umumnya tanpa agunan tambahan, sementara Kupra menggunakan jaminan. Keduanya bertujuan memberikan akses permodalan bagi pelaku usaha.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga