Pramono Anung Buka Suara Soal Tembok Jebol Akibat Gunungan Sampah di Kramat Jati
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya mengungkap penyebab di balik fenomena gunungan sampah yang melanda sejumlah titik di Ibu Kota, termasuk kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur. Menurutnya, kondisi memprihatinkan ini terjadi akibat longsor yang melanda zona 4A di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang beberapa waktu lalu.
"Sebagai akibat longsor pada waktu itu di zona 4A, memang harus ada waktu 10 hari untuk kita tata kembali," jelas Pramono dalam keterangannya di Balai Kota Jakarta, Selasa (31/3/2026). Ia menegaskan bahwa insiden ini bukan hanya berdampak pada Kramat Jati, tetapi juga memicu penumpukan sampah di berbagai wilayah lain di Jakarta karena alur pembuangan terganggu selama proses pemulihan di Bantar Gebang.
Dampak Luas dan Upaya Penanganan
Pramono menyebutkan bahwa beberapa titik di Jakarta mengalami penumpukan sampah serupa, namun ia memastikan bahwa kondisi tersebut kini telah tertangani. "Sekarang ini hampir semua tumpukan itu sudah bersih kembali karena memang Bantar Gebang sudah bisa digunakan kembali," tegasnya. Operasional penuh di TPST Bantar Gebang telah mengembalikan aliran pembuangan sampah ke kondisi normal, meredakan kekhawatiran warga.
Isu sampah ini kembali mencuat setelah Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti persoalan Bantar Gebang dalam rapat pemerintah pusat. Ia menekankan agar kejadian longsor dan dampak penumpukan sampah tidak terulang di masa depan. Pramono menyatakan kesepakatannya dan mengungkapkan bahwa Pemprov DKI telah menyiapkan lahan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) sebagai solusi jangka panjang.
"Saya setuju dengan Pak Menko. Bantar Gebang ini sudah terlalu lama bebannya terlalu berat. Di sana sudah ada sampah 55 juta ton," ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa Jakarta berencana membangun tiga PLTSa dan telah mengirimkan surat kepada Menko Pangan serta kementerian terkait untuk mempercepat realisasi proyek ini, yang diharapkan dapat mengurangi beban Bantar Gebang secara permanen.
Kondisi di Lokasi dan Keluhan Warga
Di lapangan, gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati telah menyebabkan tembok pembatas yang memisahkan area sampah dari kali dan permukiman warga jebol. Pantauan menunjukkan bahwa tembok tersebut berada persis di sisi kali, dengan dua titik yang rusak: satu selebar sekitar 10 meter dan lainnya sekitar 2 meter.
Warga setempat, Tuswadi, mengungkapkan bahwa tembok yang jebol selebar 2 meter terjadi sekitar setengah bulan lalu, sementara yang lebih besar telah terjadi sejak dua bulan yang lalu. "Kalau yang ini (2 meter) setengah bulan lalu. Jebolnya malam-malam gitu," kata Tuswadi saat ditemui di lokasi. Kejadian ini menimbulkan keluhan warga terkait bau dan risiko lingkungan yang ditimbulkan.
Pemprov DKI memastikan komitmennya untuk mempercepat pengelolaan sampah, mencegah terulangnya insiden penumpukan sampah di jalan-jalan Jakarta. Langkah-langkah strategis, termasuk pembangunan PLTSa, diharapkan dapat mengatasi masalah sampah secara berkelanjutan dan melindungi warga dari dampak negatifnya.



