Harapan Inggris untuk menjuarai Piala Dunia putra pertama sejak 1966 kandas setelah Argentina mencetak dua gol di menit-menit akhir untuk membalikkan keadaan dan memenangi laga semifinal dramatis di Atlanta, Rabu (15/7) waktu setempat. Tim asuhan Thomas Tuchel sempat unggul lebih dulu melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-55, namun Argentina bangkit lewat gol spektakuler Enzo Fernandez lima menit sebelum waktu normal berakhir, disusul sundulan Lautaro Martinez memanfaatkan umpan silang Lionel Messi di masa injury time.
Babak Pertama Penuh Pelanggaran
Atmosfer panas di dalam dan luar Stadion Atlanta tercermin dari babak pertama yang keras dengan 19 pelanggaran. Wasit asal Amerika Serikat, Ismail Elfath, kesulitan mengendalikan permainan. Fernandez nyaris mencetak gol lebih dulu lewat tendangan jarak jauh yang tipis melenceng, namun justru Inggris yang memecah kebuntuan. Morgan Rogers mengirim umpan silang dari kanan yang diselesaikan Gordon di tiang jauh.
Gol Penyama dan Pembalik Keadaan
Gol tersebut memicu respons Argentina. Kiper Inggris Jordan Pickford melakukan penyelamatan brilian menggagalkan sundulan Nico Gonzalez. Alexis Mac Allister kemudian menanduk bola yang membentur tiang gawang sebelum Fernandez akhirnya menyamakan skor lewat tendangan keras dari jarak 25 yard. Tuchel telah menyiapkan tim dengan empat bek tengah untuk mempertahankan kotak penalti, namun momentum Argentina tak terbendung. Mac Allister kembali menghantam tiang, dan akhirnya pertahanan Inggris runtuh pada menit ke-92 saat Martinez mencetak gol kemenangan.
Analisis: Kehati-hatian Tuchel Berbuah Petaka
Seperti beberapa kali terjadi di era Gareth Southgate, Inggris yang sudah unggul justru bermain terlalu hati-hati. Tuchel ikut bertanggung jawab karena menyerahkan inisiatif kepada lawan setelah unggul. Keputusan menarik Gordon dan memasukkan Ezri Konsa saat laga tersisa 18 menit menjadi simbol pendekatan defensif. Inggris terkurung di area sendiri dan terus tertekan. Perubahan formasi menjadi lima bek terlalu dini justru mengundang tekanan lebih besar, hingga akhirnya pertahanan runtuh. Kekalahan ini mungkin menjadi yang paling menyakitkan bagi Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
Messi Kembali Jadi Inspirasi
Lionel Messi baru menunjukkan pengaruh besarnya di fase akhir, namun saat momen tiba ia menjadi inspirasi utama. Umpannya berujung gol penyama Fernandez, dan umpan silang kaki kanannya disundul Martinez menjadi gol kemenangan. Performa Argentina meningkat setelah meninggalkan pendekatan kontroversial babak pertama dan mulai mendominasi permainan. Pada usia 39 tahun, Messi berpeluang menambah gelar Piala Dunia saat berhadapan dengan Lamine Yamal dan Spanyol di final, Senin (20/7) dini hari WIB.



