Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menilai fenomena sekolah negeri yang sepi peminat menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk segera berbenah. Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menegaskan bahwa sekolah negeri tidak bisa lagi hanya mengandalkan status sebagai sekolah pemerintah dan menunggu murid datang mendaftar.
Sekolah Negeri Harus Tingkatkan Kualitas dan Inovasi
"Fenomena ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pihak sekolah negeri untuk segera berbenah. Sekolah negeri tidak bisa lagi sekadar menunggu murid. Tetapi harus meningkatkan kualitas pelayanan, merapikan peta sebaran sekolah, dan menawarkan program yang relevan dengan kebutuhan anak zaman sekarang agar tidak semakin ditinggalkan," kata Ubaid saat dihubungi pada Kamis (16/7).
Ubaid mengungkapkan bahwa banyak sekolah negeri masih terjebak dalam pola pikir "kami sekolah pemerintah, pasti nanti ada murid yang datang". Akibatnya, sekolah negeri kurang aktif melakukan promosi atau berinovasi dalam program kegiatan siswa. Sementara itu, sekolah swasta agresif melakukan pemasaran sejak awal tahun ajaran.
Fenomena SD Negeri Sepi Peminat
Di jenjang SD, Ubaid menyoroti menjamurnya sekolah swasta seperti Madrasah Ibtidaiyah swasta atau SD Islam/Kristen pinggiran yang menawarkan harga sangat bersaing. Sekolah-sekolah itu menawarkan biaya yang relatif terjangkau dan tidak terpaut jauh dari pengeluaran "tersembunyi" di sekolah negeri seperti uang seragam, buku, atau kegiatan ekstra.
"Orang tua mendapatkan kualitas yang jauh lebih tinggi, jam belajar lebih panjang, fasilitas keagamaan/karakter lebih intensif, dan lingkungan yang terpantau. Di titik ini, SD Negeri yang kaku dan gratis seadanya, otomatis kehilangan daya tawar," ujarnya.
Data Minimnya Murid Baru di Berbagai Daerah
Fenomena sejumlah sekolah negeri di Indonesia minim mendapatkan murid baru terjadi memasuki masa awal tahun ajaran 2026/2027. Di SD Negeri 1 Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Bandar Lampung, hanya menerima dua siswa baru pada tahun ajaran 2026/2027. Meski hanya dua murid baru di kelas 1, guru tetap semangat menyambut mereka saat pelaksanaan MPLS pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7).
Di daerah lain, hanya ada tiga murid yang masuk ke SDN Purwoyoso 01, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah di tahun ajaran baru ini. Fenomena sekolah minim murid baru juga terjadi di Magelang, Jawa Tengah. Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Magelang, Sugiyarti, mengatakan setidaknya ada 24 SD di wilayah itu yang jumlah rombongan belajarnya kurang dari 50 persen kuota tersedia.



