Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyatakan ketidakpuasannya terhadap jumlah kader partainya yang duduk di DPR RI. Meskipun ia menilai kualitas kader Golkar tidak kalah dengan partai lain, pencapaian 102 kursi parlemen dinilai masih perlu ditingkatkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan pidato sambutan pada acara Training of Trainers (ToT) Akademi Partai Golkar, Senin 3 Agustus 2026. Kegiatan itu berlangsung di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, dan dihadiri oleh para kader serta anggota legislatif dari berbagai daerah.
Bahlil Soroti Masa Kepemimpinannya yang Hampir Dua Tahun
Dalam sambutannya, Bahlil mengawali dengan memaparkan perjalanan kepemimpinannya. Ia menyebutkan bahwa dirinya terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar pada 20 Agustus 2024. Jika dihitung hingga 3 Agustus 2026, masa kepemimpinannya baru genap dua tahun kurang 17 hari.
Momentum itu ia gunakan untuk menegaskan keyakinannya terhadap kapasitas kader Golkar. Menurut Bahlil, pengalaman hampir dua tahun memimpin partai membuatnya mampu menilai kualitas kader secara objektif.
"Dalam pengalaman saya pun menjadi Ketua Umum Partai Golkar hampir 2 tahun kurang 17 hari. Dalam pengalaman itu saya melihat, tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa kualitas kader Partai Golkar ini jauh lebih baik di atas rata-rata ketimbang yang lain," ujar Bahlil di hadapan peserta ToT.
102 Kursi DPR Dinilai Belum Memuaskan
Meski memuji kualitas kader, Bahlil justru menyoroti jumlah kursi yang kini dimiliki Golkar di Senayan. Dengan 102 kursi DPR, ia mengaku belum merasa puas. Baginya, jumlah tersebut belum sebanding dengan potensi besar yang dimiliki partai berlambang pohon beringin itu.
Bahlil menegaskan bahwa 102 kursi yang ada masih membutuhkan penguatan dari sisi kualitas. Para kader yang duduk di parlemen perlu terus belajar dan berbenah agar mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dan partai secara optimal.
"Namun menurut saya, itu saya tidak puas. Menurut saya, dari 102 kursi yang ada kita di parlemen, ini masih banyak yang butuh kita upgrade bersama-sama, kita belajar bersama-sama," katanya.
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Bahlil tidak ingin berpuas diri dengan capaian saat ini. Ia mendorong seluruh kader untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik dalam hal wawasan kebangsaan, ideologi, maupun strategi politik.
Pemilu 2029: Tantangan Pemilih Muda
Bahlil juga mengingatkan seluruh kader Golkar tentang tantangan besar pada Pemilu 2029. Ia mengutip data bahwa sekitar 73 persen pemilih pada pemilu mendatang berasal dari kelompok usia 17 hingga 50 tahun. Angka ini ia sampaikan sambil menyebut tokoh senior Partai Golkar, yaitu Akbar Tanjung atau yang akrab disapa Bang Ical.
Bagi Bahlil, komposisi pemilih yang didominasi generasi muda dan usia produktif merupakan tantangan yang tidak bisa dianggap sepele. Partai Golkar harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan karakteristik pemilih. Jika tidak, partai akan tertinggal dari kompetitor politik lainnya.
"Bapak-ibu semua, Pemilu 2029 itu jumlah pemilih 17 sampai dengan 50 tahun 73% Bang Ical, 73%. Kalau Golkar tidak mampu melakukan adaptasi, ini kita akan ketinggalan. Ini bukan persoalan pintar mengalahkan yang bodoh atau kuat mengalahkan yang lemah, ini persoalannya adalah yang cepat mengalahkan yang lambat," tegasnya.
Pernyataan ini menegaskan urgensi transformasi di tubuh Golkar. Bahlil menekankan bahwa persaingan politik masa depan tidak lagi ditentukan oleh kekuatan tradisional, melainkan oleh kecepatan berinovasi dan merespons kebutuhan masyarakat.
Kaderisasi sebagai Koreksi Internal
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Bahlil menilai Partai Golkar perlu melakukan koreksi internal. Salah satu cara yang paling penting adalah melalui proses pengaderan yang serius dan terstruktur. Tanpa kaderisasi yang kuat, partai akan kesulitan mencetak pemimpin-pemimpin baru yang mampu bersaing.
Acara Training of Trainers Akademi Partai Golkar ditempatkan sebagai bagian penting dari upaya pengaderan tersebut. Para peserta ToT diminta untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar mampu menjadi pelatih yang kompeten bagi kader-kader Golkar di daerah.
Bahlil bahkan mengusulkan agar seluruh anggota DPR RI dari Partai Golkar diwajibkan menjadi peserta dalam program semacam ini. Menurutnya, pelatihan ini menjadi filter penting untuk membedakan antara kepentingan partai dan kepentingan pribadi.
"Nah, TOT ini menurut saya sangat penting. Saya meminta kepada teman-teman yang mengikuti TOT ini serius. Serius, dan kepada semua anggota DPR RI, jadikan mereka peserta. Jadikan wajib, supaya tahu mana kepentingan partai, mana kepentingan pribadi. Kalau nggak ada filter yang mengontrol kita, susah," ujarnya.
Komitmen Golkar untuk Terus Berkarya
Sebelumnya, Bahlil juga sempat menegaskan bahwa Partai Golkar tidak terbiasa berada di posisi oposisi. Partai yang saat ini menjadi bagian dari koalisi pemerintahan Prabowo Subianto ini berkomitmen untuk terus berkarya bersama pemerintahan yang sah.
Dengan adanya ToT dan kaderisasi yang masif, diharapkan Golkar mampu mencetak kader-kader unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga loyal pada perjuangan partai. Persiapan menghadapi Pemilu 2029 pun diharapkan berjalan lebih matang dan terarah.
Melalui pidato ini, Bahlil memberikan sinyal kuat bahwa ia tidak akan berpuas diri dengan kondisi partai saat ini. Kursi DPR yang diraih bukanlah tujuan akhir, melainkan pijakan untuk melakukan lompatan lebih jauh di masa depan.



