Enam Kandidat Bersaing Memimpin PBB: Siapa Saja? Ini Profilnya
Enam Kandidat Bersaing Memimpin PBB, Siapa Saja?

Persaingan Sengit Enam Kandidat untuk Kursi Puncak PBB

Empat perempuan dan dua laki-laki tengah bersaing untuk menggantikan Antonio Guterres sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi dunia ini saat ini menghadapi ketidakstabilan global yang belum pernah terjadi sebelumnya, mulai dari konflik peperangan hingga krisis anggaran yang serius.

Para pengamat menilai sulit menentukan kandidat unggulan karena negara-negara besar masih terpecah dalam menentukan pilihan. Namun, nama Rafael Grossi dari Argentina, yang menjabat kepala badan pengawas nuklir PBB, sering disebut sebagai salah satu kandidat terkuat.

Profil Kandidat: Michelle Bachelet

Michelle Bachelet, sosialis asal Cile yang pernah mengalami penyiksaan brutal di bawah rezim Augusto Pinochet, menjadi presiden perempuan pertama Cile pada 2006. Ia kemudian menjabat sebagai Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, posisi yang membuatnya berselisih dengan sejumlah negara, terutama Cina. Pemerintah Cina mengecam Bachelet karena laporannya mengenai dugaan pelanggaran hak minoritas Uyghur.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Bachelet, kini 74 tahun, menyatakan bahwa Sekretaris Jenderal PBB harus memiliki "moral" untuk memimpin, bahkan di bawah tekanan negara-negara besar. Ia mendapat dukungan dari Meksiko dan Brasil, namun pemerintah Cile menarik dukungan setelah Presiden sayap kanan Jose Antonio Kast berkuasa. Amerika Serikat juga pernah mengkritiknya, terutama terkait dukungannya terhadap hak aborsi.

Maria Fernanda Espinosa: Dorong Reformasi PBB

Maria Fernanda Espinosa, mantan Menteri Luar Negeri Ekuador, menilai PBB sebagai satu-satunya lembaga universal yang mampu menangani tantangan bersama umat manusia. Namun, ia mendorong reformasi lebih mendalam. Perempuan 61 tahun ini pernah menjabat Presiden Majelis Umum PBB dan mengusulkan sistem "peringatan dini" untuk mendeteksi gejala konflik antarnegara sebelum terjadi. Pencalonannya didukung Antigua dan Barbuda, meski Ekuador tidak memberikan dukungan.

Rafael Grossi: Kandidat Terkuat dari IAEA

Rafael Grossi, 65 tahun, adalah diplomat senior Argentina yang memimpin Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sejak 2019. Jabatannya menempatkannya di tengah isu dunia, termasuk sengketa nuklir Iran dan pendudukan Rusia atas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia di Ukraina. Grossi tidak mengundurkan diri dari IAEA untuk berkampanye, dengan alasan meninggalkan tugas adalah "pelepasan tanggung jawab." Pengamat menilai Grossi vokal mendorong reformasi PBB dan percaya Sekretaris Jenderal harus berperan aktif menangani persoalan dunia.

Rebeca Grynspan: Mediator Gandung Hitam

Rebeca Grynspan, mantan wakil presiden Kosta Rika, memimpin badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD). Ia mengambil cuti untuk berkampanye. Pada 2022, ia memediasi Inisiatif Gandum Laut Hitam antara Moskow dan Kyiv, memungkinkan ekspor gandum tetap berjalan setelah invasi Rusia. Perempuan 70 tahun ini sering menyoroti kisah pribadinya sebagai putri dari orang tua Yahudi yang "nyaris selamat" dari Holocaust sebelum migrasi ke Kosta Rika. Ia menyayangkan PBB menjadi organisasi yang sangat berhati-hati terhadap risiko (risk-conservative organization).

Carolyn Rodrigues-Birkett: Pulihkan Kredibilitas PBB

Carolyn Rodrigues-Birkett, mantan Menteri Luar Negeri Guyana, 52 tahun, kini menjabat duta besar untuk PBB. Ia berpendapat PBB perlu memulihkan "kredibilitasnya" di panggung internasional. Menurutnya, PBB sering dinilai hanya dari sisi perdamaian dan keamanan, padahal organisasi ini memiliki peran lebih luas dalam pembangunan, hak asasi manusia, dan sektor lainnya.

Macky Sall: Satu-satunya Kandidat Non-Amerika Latin

Macky Sall, 64 tahun, adalah satu-satunya kandidat yang tidak berasal dari Amerika Latin, kawasan yang menurut tradisi dianggap berhak mengisi jabatan Sekjen PBB berikutnya. Mantan Presiden Senegal ini menekankan perdamaian dan pembangunan saling berkaitan erat. Pencalonannya diajukan Burundi selaku ketua Uni Afrika, dan baru pekan ini ia mendapat dukungan resmi dari Senegal. Namun, otoritas Senegal menuduh Sall melakukan penindasan dalam demonstrasi politik yang menyebabkan puluhan korban jiwa antara 2021 hingga 2024.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga