Sri Rahayu (60) tidak pernah mengenal ayah kandungnya, Trubus Soedarsono, seorang seniman besar yang karyanya menghiasi Istana Bogor dan Bundaran Hotel Indonesia. Baru saat dewasa ia mengetahui fakta tersebut. Pertemuan dengan Sri terjadi di pameran seni di Wates, Yogyakarta, pekan lalu. Ia adalah anak bungsu Trubus.
"Saya memang tidak begitu tahu tentang bapak saya," kata Sri.
Sri lahir pada 1966 dan sejak kecil dititipkan kepada pakde dan budenya. Ia baru membaca nama Trubus Soedarsono di rapor SD. Ayah angkatnya, Sastro, berdalih salah tulis. Hal yang sama terulang di rapor SMP dan SMEA. Pada 1985, menjelang pernikahan, Sri dikembalikan ke ibu kandungnya dan mengetahui bahwa ia adalah anak Trubus.
Karya Monumental Trubus Soedarsono
Ingatan Sri kembali ke masa kecil saat diajak kerabat ke Cililitan, Jakarta Timur, melihat Patung Denok di Istana Bogor. Patung itu dibuat tahun 1958 atas pesanan Presiden Soekarno. Tubuh patung terinspirasi dari anak pelukis Belanda Ernest Dezentje, wajahnya dari anak pegawai istana. Sri juga melihat Tugu Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta, yang dibangun untuk Asian Games IV 1962. Trubus mengerjakan patung berdasarkan sketsa Henk Ngantung, di bawah pimpinan Edi Sunarso. Ini karya terakhir Trubus sebelum hilang usai 1965.
"Ternyata saya itu punya bapak yang meninggalkan karya bagus di Indonesia," kenang Sri.
Perjalanan Hidup Trubus
Sri menghadiri Pameran 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo di Yogyakarta. Pameran itu digagas seniman Teguh Paino (52). Teguh pertama kali mengenal Trubus dari katalog hitam putih tahun 1994-1995. Ia lalu berkenalan dengan Sudargono, putra seniman Sudarsono.
Trubus mulai melukis setelah bertemu Sudarsono. Saat remaja, Trubus sering memperhatikan Sudarsono melukis. Suatu hari Sudarsono bertanya, "Kamu suka gambar, atau ngelukis, po?" Trubus mengangguk. Sudarsono memberinya alat lukis. Trubus menghilang, lalu kembali dengan karya yang sudah dipajang di dinding. Sejak itu Sudarsono mengajaknya tinggal di rumah dan menambahkan nama 'Soedarsono' di belakang namanya.
Kiprah Politik dan Akhir Hidup
Pada masa pendudukan Jepang, Sudarsono menjadi ketua Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta. Trubus ikut serta dan bertemu para maestro seni, termasuk Soekarno muda. Ia bergabung dengan Putera, SIM (Seniman Indonesia Muda) tahun 1940-an, dan turut mendirikan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) tahun 1950, yang kini menjadi ISI Yogyakarta. Ia sempat mengajar di sana.
Trubus aktif di Pelukis Rakyat dan Lembaga Kebudajaan Rakyat (Lekra), organisasi underbow PKI. Ia pernah menjadi anggota DPRD DIY dari PKI. Setelah peristiwa 1965, Trubus hilang. Ada yang menyebut ia meninggal tahun 1966 dalam gelombang penangkapan orang-orang yang terafiliasi PKI. Hingga kini, tak ada yang tahu pasti akhir hidupnya. Trubus adalah seniman tanpa batu nisan.



