Heru Baskoro, putra dari Sayuti Melik—salah satu tokoh yang mengetik naskah Proklamasi—kini menjalani hidup penuh keterbatasan di sebuah kontrakan sempit di Bekasi. Ia tinggal bersama istrinya, Treyzia Noviani, yang merupakan cucu dari Haji Agus Salim, pahlawan nasional Indonesia. Pasangan ini telah menempati rumah kontrakan berukuran kecil selama empat bulan terakhir, dengan perabot seadanya: kasur tipis di ruang tengah dan kipas angin sebagai satu-satunya penyejuk udara.
Kondisi Kesehatan Heru Baskoro yang Memprihatinkan
Heru menderita gangguan penglihatan parah akibat penyakit yang mulai dideritanya sejak 2016. "Yang lihat cuma mata kiri, kanan enggak melihat," ujarnya kepada Liputan6.com, Senin (13/7/2026). Mata kanannya sudah tidak berfungsi, sementara mata kirinya juga tidak normal. Selain itu, ia juga mengidap diabetes yang memengaruhi fungsi saraf dan memicu gejala demensia. Heru memerlukan operasi kornea buatan yang hanya tersedia di Kanada, Amerika Serikat, dan Jerman. Operasi sebenarnya sudah dijadwalkan pada akhir Juli, tetapi terkendala biaya.
Riwayat Hidup dan Perjuangan Biaya Pengobatan
Sebelum sakit, Heru berkarier sebagai Direktur Keuangan Trans Bakrie dan kemudian bekerja di perusahaan minyak di Texas, Amerika Serikat. Ia dan Treyzia menikah pada 1998 dan sempat tinggal di Amerika Serikat serta Kanada. Di Kanada, mereka tertarik dengan sistem kesehatan yang terjamin, sehingga memutuskan menetap di sana. Namun, ketika gangguan mata Heru semakin parah, mereka menjual rumah keluarga di Indonesia untuk membiayai pengobatan. Pada 2021, Heru menjalani transplantasi kornea donor di Jakarta, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Setelah kembali ke Kanada, biaya pengobatan tidak mendapat penggantian (reimburse) dari sistem kesehatan setempat. "Jadi kita sudah habis-habisan. Rumah dijual untuk berobat mata suami. Begitu balik lagi ke Kanada, reimburse-nya tidak diturunkan," tutur Treyzia.
Hidup Bergantung pada Uluran Tangan
Keterbatasan biaya membuat Heru dan Treyzia bergantung pada bantuan dari teman, tetangga, dan relawan. Anak angkat mereka, Shifa, menceritakan bahwa ada yang mengirim makanan, membelikan kebutuhan rumah tangga, membantu membayar kontrakan, hingga mengisi token listrik. "Kadang teman ngasih buat makan, kadang dari gereja atau Islamic Center sempat membantu," ujar Shifa. Ia juga mengungkapkan bahwa keluarganya telah berupaya menghubungi berbagai lembaga dan instansi pemerintah sebelum kisah ini viral, namun bantuan belum kunjung datang. "Kalau dibilang sudah habis, mobil satu," katanya menggambarkan pengorbanan keluarga mereka.
Bantuan dari Pemerintah Akhirnya Tiba
Kini, kondisi Heru dan Treyzia mulai mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Sosial membawa keduanya ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi untuk mendapatkan tempat tinggal sementara dan pendampingan. Sebelumnya, Menteri Sosial juga telah buka suara mengenai kondisi putra Sayuti Melik yang hidup prihatin di gang sempit. Dengan adanya bantuan ini, diharapkan Heru dapat segera menjalani operasi kornea buatan yang sangat dibutuhkan.



