Parlemen Ukraina pada Selasa (15/07) menyetujui pengunduran diri Perdana Menteri Yulia Svyrydenko, sekaligus membubarkan kabinet pemerintahan. Langkah ini merupakan hasil dari percepatan reshuffle yang diumumkan Presiden Volodymyr Zelensky pada Minggu (13/07) melalui media sosial.
Zelensky Tawarkan Posisi Baru untuk Svyrydenko
Zelensky mengumumkan telah menawarkan posisi baru kepada Svyrydenko, yang disebut-sebut sebagai calon Duta Besar Ukraina untuk Amerika Serikat. "Saya berterima kasih kepada Yulia atas kinerjanya yang jelas, konsisten, dan efektif sebagai perdana menteri, serta atas pengabdiannya selama bertahun-tahun sebagai bagian dari Tim Ukraina," tulis Zelensky di Telegram. "Saya telah menawarkannya posisi baru yang penting dalam hubungan dengan salah satu mitra utama kami." Ia juga mengunggah foto pertemuan dengan sejumlah pejabat, termasuk kepala Naftogaz Sergii Koretskyi, Wakil PM Denys Shmyhal, Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko, Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov, dan Wali Kota Kharkiv Ihor Terekhov.
Skandal dan Tekanan AS Percepat Reshuffle
Ilmuwan politik Ihor Reiterovych dari Universitas Nasional Taras Shevchenko Kyiv mengatakan kepada DW bahwa reshuffle dipercepat karena beberapa faktor. Salah satunya adalah situasi Duta Besar Ukraina untuk AS saat ini, Olga Stefanishyna, yang tengah diselidiki otoritas antikorupsi terkait aktivitas sebelum penugasannya di Washington. Ia dikabarkan mempertimbangkan mundur. "Ada kemungkinan AS memberi sinyal bahwa skandal duta besar adalah persoalan serius," ujar Reiterovych. Svyrydenko dianggap kandidat tepat karena pengalaman kerja sama dengan AS dalam perjanjian bahan baku dan hubungan baik dengan pihak di sana.
Selain itu, serangkaian skandal di angkatan bersenjata berpotensi merusak reputasi Zelensky sebagai panglima tertinggi. Laporan investigasi mengungkap dugaan penyiksaan, perlakuan kejam terhadap rekrutan, dan upaya menutupi kematian di luar operasi tempur. Otoritas juga menyelidiki dugaan penyimpangan dalam wajib militer, di mana banyak pria dimobilisasi ternyata tidak memenuhi syarat medis. Menurut Reiterovych, pergantian pejabat dapat mengalihkan perhatian publik dari masalah militer. Komunikasi yang buruk antara Zelensky dengan sejumlah anggota kabinet, termasuk Menteri Pertahanan Fedorov, juga menjadi katalis perombakan.
Memperkuat Kendali Eksekutif
Vadym Denysenko dari DSNews mengatakan Svyrydenko berasal dari lingkaran dekat mantan kepala kantor kepresidenan Andriy Yermak, yang dikenal menuntut loyalitas tinggi. Setelah Yermak mundur, peran Svyrydenko dinilai kurang relevan. Ilmuwan politik Oleksiy Haran menilai perombakan berkaitan dengan mundurnya Yermak. "Kantor kepresidenan ingin memperkuat kendali terhadap cabang eksekutif," ujarnya. Meski konstitusi memberikan kewenangan pembentukan pemerintahan kepada parlemen, Zelensky ingin menunjukkan bahwa seluruh proses tetap di bawah kendalinya.
Alasan lain adalah kebutuhan menangani persoalan energi Ukraina. Sergii Koretskyi dan Denys Shmyhal, yang berlatar belakang energi, masuk dalam daftar kandidat perdana menteri. Sejumlah pengamat menyebut Koretskyi sebagai kandidat terkuat.
Loyalitas Jadi Pertimbangan Utama
Volodymyr Fesenko dari Penta Center mengatakan Zelensky kerap menggabungkan keputusan personal ke dalam perubahan pemerintahan. Selain kabinet, keputusan terkait lembaga penegak hukum juga diperkirakan akan diumumkan. Denysenko menilai reshuffle ini bagian dari perombakan menyeluruh tim kepemimpinan Zelensky. Reiterovych menegaskan faktor utama Zelensky dalam memilih perdana menteri baru adalah loyalitas. Meski Ukraina menganut sistem parlementer, para pengamat memperkirakan parlemen akan menyetujui kandidat pilihan presiden. Namun, seluruh calon menteri tetap harus mendapat persetujuan parlemen, yang dapat menunjukkan independensinya jika menolak usulan presiden.



