Badan Meteorologi Korea (KMA) mengonfirmasi bahwa kota Yangsan di bagian tenggara Korea Selatan mencatat suhu 42,5 derajat Celsius pada Minggu (3/8/2026) pukul 13.26 waktu setempat, atau 04.26 GMT. Suhu tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan cuaca di negara itu yang berlangsung lebih dari satu abad.
Yangsan menjadi pusat gelombang panas yang sedang melanda. Kota tersebut telah mencatatkan suhu di atas 40 derajat Celsius selama lima hari berturut-turut hingga hari Minggu. Sejumlah kota lain, termasuk Daegu dan Busan, juga mengalami kenaikan suhu hingga di atas 30 derajat Celsius.
Warga Berbondong ke Tempat Ber-AC
Cuaca panas yang ekstrem membuat warga berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan atau kafe yang ber-AC untuk menghindari panasnya udara di luar ruangan. Seorang pekerja kantoran berusia 27 tahun, Ju Dong-yeol, mengaku tidak tahan dengan suhu yang begitu menyengat.
"Saya tidak bisa memikirkan hal lain selain tinggal di tempat-tempat ber-AC seperti rumah, pusat perbelanjaan, dan kafe," kata Ju Dong-yeol, sebagaimana dilansir AFP, Senin (3/8/2026).
Peringatan Darurat Gelombang Panas
Pada hari Minggu, lebih dari 20 wilayah di Korea Selatan berada di bawah peringatan gelombang panas darurat. Peringatan kategori baru ini pertama kali diperkenalkan pada tahun ini sebagai upaya untuk merespons kenaikan suhu yang ekstrem.
Peringatan darurat dikeluarkan ketika wilayah yang mengalami gelombang panas diperkirakan akan mencapai suhu 38 derajat Celsius atau 39 derajat Celsius pada hari itu. Dengan adanya peringatan tersebut, badan cuaca mendesak masyarakat untuk segera menghentikan semua aktivitas di luar ruangan.
Badan meteorologi juga memperingatkan bahwa ruang dalam ruangan tanpa pendingin udara berbahaya bagi kesehatan. "Segera pindah ke tempat yang sejuk, seperti pusat pendinginan yang ditunjuk atau area yang teduh, dan tetap terhidrasi saat beristirahat," saran KMA.
Perubahan Iklim dan El Nino Memperparah Panas
Para ilmuwan memperingatkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas menjadi lebih sering dan intens akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Kembalinya El Nino pada tahun ini juga memperburuk kondisi, karena fenomena alami tersebut menghangatkan suhu permukaan Samudra Pasifik dan biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun.
Fenomena serupa juga terjadi di Eropa, yang mengalami musim panas terik dengan gelombang panas berkepanjangan sehingga suhu di sejumlah bagian Eropa selatan melampaui 40 derajat Celsius. Hal ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan di Asia Timur, tetapi juga di berbagai belahan dunia.
Dengan rekor suhu yang terus berjatuhan, para ahli berharap kewaspadaan masyarakat dan kesiapan pemerintah dalam menghadapi cuaca ekstrem dapat ditingkatkan. Peringatan dini dan edukasi publik menjadi kunci untuk mengurangi risiko akibat gelombang panas.



