Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menuduh sejumlah anggota pemerintahan Israel sengaja memanipulasi opini publik Amerika Serikat untuk menggagalkan kesepakatan awal antara Washington dan Teheran yang bertujuan mengakhiri perang. Pernyataan ini ia sampaikan dalam podcast bersama Joe Rogan yang dirilis pada Rabu (15/7/2026) waktu setempat, dan dilansir Reuters pada Jumat (17/7/2026).
Vance Bela Kesepakatan Awal AS-Iran
Dalam wawancara tersebut, Vance membela kesepakatan awal yang dicapai AS dan Iran pada Juni lalu. Kesepakatan itu sendiri menuai kritik keras dari berbagai pihak di AS dan Israel karena dianggap gagal membendung program nuklir Iran, tidak memberikan jalur jelas untuk memusnahkan fasilitas nuklir Iran, serta membatasi pergerakan pasukan Israel dalam perang melawan Hizbullah di Lebanon.
“Saya mengetahui tanpa keraguan sedikit pun bahwa ada orang-orang di dalam pemerintahan Israel yang berupaya, katakanlah, benar-benar mengalihkan perhatian kita dari kebijakan tersebut karena mereka ingin melanjutkan kampanye militer,” ujar Vance dalam podcast tersebut.
Tuduhan Manipulasi Opini Publik
Vance menegaskan bahwa meskipun ia memiliki hubungan baik dengan beberapa anggota pemerintahan Israel, ada pihak-pihak yang melakukan manipulasi terhadap opini publik AS demi menggagalkan kesepakatan dengan Iran. “Ada orang-orang di dalam sistem mereka, yang kita ketahui tanpa keraguan, sedang memanipulasi dan berupaya mengubah opini publik Amerika agar perang terus berlangsung tanpa batas waktu,” cetus Wapres AS.
Ia mengakui bahwa banyak negara, baik sekutu maupun musuh, berusaha mempengaruhi kebijakan AS. Vance tidak keberatan jika Israel, Rusia, atau negara lain mencoba hal serupa, karena itu adalah “bagian tak terpisahkan dari peran sebagai pemimpin politik tahun 2026.” Namun, ia keberatan ketika operasi atau kampanye pengaruh tersebut benar-benar mempengaruhi penilaian politik Amerika.
Kritik Terhadap Penentang Kesepakatan
Vance sebelumnya telah mengkritik keras pihak-pihak di Israel yang menentang kesepakatan AS-Iran. Ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump adalah satu-satunya sekutu Israel, dan menyoroti besarnya bantuan pertahanan AS untuk Israel. “Senjata Anda pakai uang pajak AS!” sindir Vance dalam pernyataan sebelumnya.
Saat ditanya apakah AS akan tetap terlibat dalam perang melawan Iran tanpa pengaruh Israel, Vance menjawab, “Iya, menurut saya begitu.” Ia menambahkan, “Saya pikir Presiden, terlepas dari pengaruh apa pun dari Israel, sangat meyakini, dan sekali lagi saya sependapat dengan hal ini, bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Dampak dan Implikasi
Pernyataan Vance ini semakin memanaskan hubungan antara pemerintahan Trump dan Israel, terutama di tengah perdebatan sengit mengenai kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah. Vance, yang dipandang banyak pihak sebagai calon presiden AS di masa depan, tampaknya ingin menegaskan sikap independennya dalam isu Iran, meskipun harus berhadapan dengan sekutu dekat AS.



