Kementerian Kesehatan Iran mengumumkan bahwa setidaknya 38 orang tewas dan lebih dari 400 lainnya luka-luka akibat serangan Amerika Serikat yang dimulai pada 22 Juni 2026. Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, menyampaikan data ini melalui unggahan di media sosial X, sebagaimana dilansir kantor berita AFP pada Jumat, 17 Juli 2026.
Rincian Korban Serangan AS
"Jumlah korban luka akibat serangan AS telah melebihi 400, dan 38 warga negara telah gugur sejak 22 Juni," kata Kermanpour. Ia merinci bahwa di antara korban terdapat 22 wanita yang terluka, tiga wanita yang gugur, sembilan orang di bawah usia 18 tahun yang terluka, dan satu orang di bawah usia 18 tahun yang gugur. Serangan ini memicu kembali ketegangan di Timur Tengah, mengancam kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani oleh pemimpin kedua negara pada Juni lalu.
Latar Belakang Konflik dan Serangan Balasan
Beberapa hari terakhir, AS melancarkan gelombang serangan udara terhadap target-target Iran, baik di darat maupun di laut. Washington menyatakan serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Teheran mengancam pelayaran di Selat Hormuz, jalur perairan vital untuk pasokan minyak dan gas global. Sebagai balasan, Iran menggempur pangkalan militer di Suriah. Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa AS dapat memperluas serangan hingga menargetkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika Teheran tidak kembali ke meja perundingan.
Sikap AS: Diplomasi dan Ancaman
Di tengah eskalasi, Gedung Putih menyatakan Trump tetap terbuka untuk diplomasi. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan kepada wartawan pada Kamis, 16 Juli waktu setempat: "Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari kata-kata yang mereka sampaikan kepada Amerika Serikat. Tetapi pada saat yang sama, beliau selalu terbuka untuk diplomasi." Leavitt juga mengklaim Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan dengan AS, namun Trump tidak akan membiarkan mereka menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz tanpa konsekuensi.



