Iran Ngotot Kendalikan Selat Hormuz, Tolak Usulan Oman
Iran Tolak Usulan Oman, Ngotot Kendali Selat Hormuz

Iran melakukan pembicaraan terbaru dengan Oman mengenai status Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi pasokan energi global. Dalam pertemuan tersebut, Teheran mengajukan usulan pengaturan sementara untuk membuka kembali selat yang saat ini ditutup akibat konflik dengan Amerika Serikat. Namun, Iran dengan tegas menolak usulan Oman yang menawarkan pembagian kendali secara setara.

Usulan Iran: Satu Jalur di Bawah Kendali Penuh

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa pihaknya mengusulkan agar arus lalu lintas maritim satu arah di Selat Hormuz sepenuhnya melintasi wilayah perairan Iran. Sebagian dari rute arah sebaliknya juga akan berada di bawah kendali Iran. "Usulan kami adalah satu jalur pelayaran yang melintasi selat tersebut harus sepenuhnya berada di bawah kendali Iran, dengan sebagian jalur lainnya juga berada di bawah kendali Iran. Ini adalah posisi tegas kami, dan Iran tidak akan menerima formula lainnya," kata Gharibabadi dalam wawancara dengan televisi pemerintah Teheran pada Selasa (28/7).

Oman Tawarkan Pembagian 50:50, Iran Tolak

Menurut Gharibabadi, Oman mengusulkan pembagian rute pelayaran setara untuk menggantikan rute utara (Iran) dan selatan (Oman) yang saat ini diberlakukan. Rencana tersebut memberikan kendali 50 persen untuk Iran dan 50 persen untuk Oman. Namun, Iran menolak karena dinilai tidak menjawab kekhawatiran keamanan Teheran hingga stabilitas kawasan jangka panjang tercapai. "Kami tidak akan menerima formula 50-50. Ini soal keamanan nasional, bukan intimidasi," tegas Gharibabadi.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Ancaman Penutupan Tak Terbatas

Gharibabadi memperingatkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup jika Oman menolak usulan Iran. Ia juga menegaskan bahwa Iran siap menghadapi kemungkinan berkobarnya kembali konflik di kawasan tersebut. "Kami tidak akan menyerah pada tekanan. Selat akan ditutup sampai Oman menerima proposal kami," ujarnya. Sejak perang Iran-AS melanda, selat ini telah menjadi titik rawan yang mengancam pasokan minyak dunia.

Penolakan Terhadap Skema Internasional

Lebih lanjut, Gharibabadi menyatakan bahwa Iran tidak lagi mengakui Skema Pemisahan Lalu Lintas (TSS) yang ditetapkan Organisasi Maritim Internasional (IMO). Menurutnya, TSS lama sebagian besar berada di perairan Oman dan tidak memungkinkan Iran memantau kapal-kapal yang melintas pasca perang. "Selama 60 tahun TSS berada di perairan Oman, kami tidak pernah mempermasalahkannya. Namun sekarang situasi berbeda. Ada risiko ranjau dan ancaman keamanan. Rute utara milik Iran dan rute selatan milik Oman sudah digantikan dengan sistem baru," jelas Gharibabadi.

Dengan sikap keras ini, Iran mengukuhkan posisinya sebagai pengendali utama Selat Hormuz, yang selama ini menjadi titik strategis dalam perdagangan energi global. Langkah ini berpotensi memicu ketegangan baru dengan Oman dan negara-negara pengguna jalur tersebut, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga