Iran Terjebak Ketidakpastian Perang dan Gencatan Senjata, Warga Alami Krisis Mental
Iran Terjebak Ketidakpastian Perang dan Gencatan Senjata

Sejak kesepakatan gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel diumumkan, warga Iran berulang kali mendengar kabar bahwa perang telah berakhir. Namun, di saat bersamaan, serangan, ancaman, dan negosiasi diplomatik tetap berjalan. Pemerintah Iran di satu hari berbicara tentang negosiasi, kemajuan hubungan luar negeri, hingga peluang pelonggaran sanksi. Namun di hari berikutnya, mereka justru memperingatkan adanya kemungkinan balasan, serangan baru, hingga ancaman terhadap infrastruktur vital negara.

Dinamika Diplomasi dan Realitas Konflik

Dinamika yang terus berubah antara janji diplomasi dan realitas konflik ini membuat banyak warga Iran terjebak dalam ketidakpastian. Bagi banyak orang, tekanan psikologis akibat ketidakjelasan ini terasa jauh lebih destruktif daripada perang itu sendiri. Masalahnya bukan lagi sekadar ketakutan akan kekerasan fisik, melainkan hilangnya kemampuan untuk sekadar membayangkan masa depan yang stabil.

Seorang pengacara di Teheran yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada DW bahwa bagian tersulit dari situasi saat ini adalah ketidakpastian kapan krisis akan berakhir. "Karakteristik utama dari momen ini adalah kita tidak tahu kapan perang akan benar-benar usai," ujarnya. "Ketika Anda tidak bisa merencanakan bagaimana menghadapi masa sulit, tekanan yang dirasakan menjadi luar biasa besar." Ia mengaku kini kehilangan motivasi untuk bekerja atau memulai hal baru. Bahkan, untuk berbicara secara terbuka di tengah masyarakat pun terasa semakin sulit. Di kota tempat ia tumbuh besar, ia merasa mulai asing dengan orang-orang di sekitarnya.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kelumpuhan Psikologis dan Sosial

Kelumpuhan psikologis ini bukan sekadar frustrasi individu, melainkan telah mempengaruhi keputusan mendasar terkait pekerjaan, keluarga, dan masa depan. Ditambah kondisi ekonomi yang tidak stabil dan kekhawatiran bahwa kekerasan bisa kembali terjadi kapan saja, banyak warga Iran merasakan kelelahan dan kebuntuan sosial.

"Kami benar-benar kehilangan harapan," kata seorang warga di Kota Isfahan bercerita kepada DW. "Ketidakstabilan antara damai dan perang ini membuat kondisi mental kami seperti dipermainkan. Kami tidak punya gambaran jelas tentang masa depan, maupun keamanan psikologis dan finansial kami." Ia mengatakan situasi ini perlahan telah mengikis kehidupan masyarakat. Kepercayaan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam konflik, maupun terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai yang bertahan lama, kini semakin menurun.

Dampak pada Generasi Muda Iran

Ketidakpastian akibat konflik saat ini mungkin terasa lebih berat bagi generasi muda Iran. Banyak dari mereka tidak memiliki ingatan langsung tentang perang Iran-Irak pada 1980-1988 maupun kehidupan di bawah ancaman militer berkepanjangan. Bagi mereka, ini adalah pengalaman pertama hidup dalam bayang-bayang konflik regional yang belum jelas kapan berakhir.

Seorang perawat di Iran barat mengatakan kepada DW bahwa ketika suatu masyarakat menghadapi situasi seperti ini, kepercayaan terhadap masa depan melemah dan orang-orang mulai menunda keputusan jangka panjang. "Orang-orang mulai hidup seolah-olah satu-satunya tujuan hanyalah bertahan hingga hari ini," katanya dengan syarat namanya tidak disebutkan. Menurutnya, bagi generasi yang tidak pernah mengalami perang panjang secara langsung, situasi ini terasa lebih membingungkan. Bukan karena mereka lebih lemah, tetapi karena mereka tidak memiliki gambaran bagaimana harus menjalani hidup dalam kondisi penuh ketidakpastian.

Ia mengatakan, yang banyak dirasakan masyarakat saat ini bukan hanya ketakutan terhadap perang, melainkan kelelahan akibat ketidakpastian yang terus berlangsung. Perawat tersebut melihat perubahan itu di rumah sakit dan klinik tempatnya bekerja. Pasien semakin sering menunjukkan kemarahan, ketidakpuasan, dan mudah terpancing emosi. Bahkan ketika layanan yang diberikan sudah baik, sebagian tetap merasa kecewa. Menurutnya, kemarahan tersebut tidak bisa dipisahkan dari situasi sosial yang lebih luas, ketika banyak orang merasa hidup mereka berada dalam kondisi yang tidak pasti.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Data Survei: Kemarahan, Keputusasaan, dan Kelelahan Emosional

Saeed Paivandi, profesor di Universitas Lorraine, Prancis, mengatakan kepada DW bahwa berbagai data dan penelitian lapangan menunjukkan dua kecenderungan yang saling berkaitan di Iran saat ini, yakni meluasnya rasa putus asa terhadap masa depan dan kemarahan terhadap ketidakmampuan pemerintah mengatasi persoalan sehari-hari serta menjalankan pemerintahan secara efektif.

Merujuk pada survei yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri Iran pada Mei 2026, Paivandi mengatakan sekitar 60% warga Iran merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Ia juga mengutip hasil survei terbaru yang diterbitkan IranWire. Menurutnya, survei tersebut menunjukkan sekitar 64% responden merasakan kemarahan, hampir 50% merasa putus asa, 48% mengalami depresi, dan sekitar 45% merasakan ketakutan serta kecemasan.

Menurut Paivandi, angka-angka tersebut menunjukkan kondisi masyarakat yang memburuk dibandingkan survei terakhir sebelum gelombang protes besar terhadap pemerintah dan tindakan keras aparat pada awal tahun ini. Ia memperkirakan tingkat kemarahan, depresi, dan kecemasan meningkat sekitar 10 hingga 12 poin persentase. Hal ini menunjukkan bahwa tindakan represif pemerintah, disusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, telah meninggalkan dampak besar terhadap cara masyarakat memandang kehidupan, politik, dan masa depan.

Keinginan Meninggalkan Negara Meningkat

Paivandi juga menyoroti tren lain yang menurutnya semakin terlihat, yaitu sekitar sepertiga warga Iran kini menyatakan keinginan untuk meninggalkan negara tersebut. Angka ini bahkan lebih tinggi di kalangan generasi muda dan kelompok dengan tingkat pendidikan lebih tinggi.

Di tengah situasi tersebut, para ahli menilai krisis psikologis yang dialami masyarakat Iran tidak hanya berkaitan dengan gencatan senjata, diplomasi, maupun ancaman eskalasi militer. Konflik dengan pihak luar memang menjadi faktor penting, tetapi situasi itu terjadi di tengah masyarakat yang sebelumnya sudah menghadapi tekanan akibat inflasi tinggi, pembatasan kebebasan, hilangnya kepercayaan, serta rasa bahwa peluang untuk memperbaiki kehidupan semakin terbatas.

Masa Depan Tanpa Kepastian

Yang membuat situasi saat ini semakin sulit adalah belum adanya pihak yang mampu menawarkan gambaran masa depan yang jelas dan meyakinkan bagi masyarakat. Sebaliknya, warga Iran terus menerima pesan yang berubah-ubah setiap hari. Kondisi penuh ketidakpastian pun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Semakin lama situasi tanpa kepastian ini berlangsung, semakin sulit pula memulihkan kepercayaan masyarakat dan menjaga harapan mereka untuk membayangkan masa depan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris. Diadaptasi oleh Ausirio Sangga Ndolu. Editor: Muhammad Hanafi.