SMK PGRI 5 Denpasar, Bali, menjadi perhatian publik setelah foto twibbon Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sejumlah siswi ramai dikritik di media sosial karena dianggap terlalu vulgar. Menanggapi hal tersebut, pihak sekolah langsung melakukan investigasi internal dan memberikan pembinaan kepada para siswi.
Kepala Sekolah Buka Suara
Kepala SMK PGRI 5 Denpasar, Nuning Kurniawati, mengungkapkan bahwa hasil penelusuran internal menunjukkan beberapa siswi telah diberikan pembinaan. Pihak sekolah juga meminta para siswi untuk mengganti foto twibbon yang menjadi sorotan. "Memang ada beberapa siswi itu yang (bertanya) 'kenapa emang ada ya aturannya?' Seperti itu, 'emang ada ini kalau seandainya saya nggak ganti seperti itu'. Jadi memang ini akan kami lakukan pemanggilan," kata Nuning saat ditemui di SMK PGRI 5 Denpasar, Senin (13/7/2026).
Nuning menjelaskan bahwa panitia sebelumnya telah memberikan contoh pembuatan twibbon dan video pengenalan diri sebelum MPLS dimulai. Arahan tersebut mencakup penggunaan pakaian yang sopan, seperti seragam sekolah lama, kebaya, atau pakaian lain yang tertutup. Ia menegaskan bahwa pihak sekolah tidak pernah mengarahkan siswa-siswi untuk mengenakan pakaian vulgar atau terbuka.
Langkah Selanjutnya
"Tadi pagi juga saya sudah menjelaskan di depan. Begitu juga Badan Pengelola Harian dari kami, SMK PGRI 5 Denpasar. Kalau seandainya memang nanti sore (belum diganti) kami akan evaluasi lagi. Kalau masih kan kami adakan pemanggilan, seperti itu," ucap Nuning. Pihak sekolah berkomitmen untuk terus memantau dan memastikan bahwa seluruh siswa mengikuti aturan yang telah ditetapkan.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi sekolah-sekolah lain untuk lebih ketat dalam mengawasi konten yang dibuat siswa selama MPLS, terutama yang diunggah ke media sosial. SMK PGRI 5 Denpasar berharap insiden ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan berpakaian di ruang publik.



