Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa mereka masih melanjutkan pembicaraan dengan mediator dari Pakistan, Qatar, dan Oman dalam upaya mencegah eskalasi lebih lanjut dalam konflik dengan Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa peran para mediator adalah melanjutkan upaya mereka untuk mencegah peningkatan ketegangan.
Serangan Balasan dan Ancaman Pembatalan MoU
AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap target-target Iran pada Senin, 13 Juli 2026, untuk hari kedua berturut-turut. Washington mengklaim serangan militer ini sebagai respons atas serangan yang diduga dilancarkan Teheran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Rentetan serangan terbaru AS itu mendorong Iran untuk menargetkan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk serta Yordania sebagai pembalasan.
Iran memperingatkan bahwa mereka tidak akan lagi mematuhi nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani dengan AS pada pertengahan Juni lalu jika Washington gagal memenuhi komitmennya untuk mengakhiri perang. “Setiap kali pihak lain gagal memenuhi kewajibannya, kami pun tidak menjalankan kewajiban kami... Kami akan terus bertindak demikian,” tegas Baghaei dalam konferensi pers di Teheran.
Upaya Diplomasi dan Hambatan dari AS
Baghaei menekankan bahwa Iran sedang berupaya menyepakati mekanisme bersama dengan Oman terkait Selat Hormuz. Namun, tekanan AS terhadap Oman telah menghambat upaya tersebut. Pertempuran yang kembali pecah antara Iran dan AS setelah gencatan senjata yang rapuh sejak April berpusat pada klaim yang saling bertentangan atas Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang penting bagi pasokan energi global.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) baru-baru ini mengumumkan bahwa Selat Hormuz kini “ditutup”. Namun, AS menegaskan bahwa jalur perairan vital itu tetap terbuka untuk lalu lintas maritim dan tidak dikendalikan oleh Iran.
Peran Mediator dan Kekhawatiran Regional
Para mediator telah berupaya menyelamatkan solusi diplomatik untuk mengakhiri perang setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Pakistan, mediator utama dalam negosiasi Iran-AS, melalui pernyataan Kementerian Luar Negerinya, menyatakan “keprihatinan mendalam atas peningkatan ketegangan regional”.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan-serangan AS telah “menyebabkan kembalinya ketidakamanan di Selat Hormuz” dan “telah membuat semua upaya sia-sia” dalam membangun perdamaian di kawasan tersebut.



