Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Langkah ini merupakan respons atas serangan udara AS yang menghancurkan sebuah bangunan permukiman di Pulau Qeshm, Iran, yang menewaskan pasangan suami istri beserta anak balita mereka.
Serangan Balasan IRGC ke Pangkalan AS
IRGC mengonfirmasi bahwa mereka telah menargetkan pangkalan-pangkalan AS di tiga negara Teluk tersebut. Meski rincian kerusakan belum diumumkan, sumber intelijen menyebutkan serangan itu menggunakan rudal dan drone. Eskalasi ini memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik dan potensi gangguan pasokan energi dunia, mengingat kawasan Teluk merupakan jalur utama minyak bumi.
Korban Sipil di Pulau Qeshm
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa serangan udara AS pada pekan lalu merusak sejumlah rumah warga di Pulau Qeshm. "Insiden tersebut menewaskan seorang sopir taksi bernama Qeysar Jafari, istrinya Zahra Jafari, dan anak mereka yang baru berusia dua tahun," kata Baghaei dalam konferensi pers di Teheran. Pemerintah Iran mengecam keras tindakan AS yang dianggap melanggar hukum internasional dan kedaulatan wilayah Iran.
Dampak Global dan Kekhawatiran Krisis Energi
Aksi saling balas serangan ini meningkatkan risiko konflik terbuka di Timur Tengah. Analis militer memperingatkan bahwa keterlibatan langsung pasukan AS dan Iran dapat memicu perang regional. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia langsung melonjak lebih dari 5% dalam perdagangan awal pekan ini, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari Selat Hormuz. Negara-negara penghasil minyak anggota OPEC telah mengadakan pertemuan darurat untuk membahas stabilitas pasar.
Iran menegaskan bahwa mereka akan terus mempertahankan diri terhadap setiap agresi. "Kami tidak mencari perang, tetapi kami tidak akan ragu untuk melindungi rakyat dan wilayah kami," ujar Baghaei. Sementara itu, Kementerian Pertahanan AS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan balasan IRGC.



