Laporan terbaru dari New York Times dan harian Israel Haaretz kembali memicu perdebatan soal skenario pergantian rezim di Iran. Kedua laporan itu mengklaim bahwa Israel menjajaki kemungkinan menempatkan mantan Presiden ultrakonservatif Mahmoud Ahmadinejad sebagai tokoh kunci pasca-Republik Islam. Upaya tersebut dilaporkan semakin intensif selama perang dan melibatkan kontak rahasia di Hungaria.
Klaim Kontak Rahasia dan Serangan Udara
Menurut laporan-laporan tersebut, Ahmadinejad dipindahkan ke rumah aman setelah kediamannya dihantam serangan udara Israel pada 28 Februari 2026. David Barnea, mantan kepala Mossad, diduga secara pribadi mengawasi sebagian upaya kontak, termasuk pertemuan di Budapest. Haaretz juga melaporkan bahwa operasi ini mencakup rencana infiltrasi di dalam Iran, kontak dengan kelompok minoritas, dan diskusi strategi destabilisasi yang lebih luas.
Namun, detail-detail tersebut belum diverifikasi secara independen. Kantor Ahmadinejad menolak klaim itu, menyebutnya "absurd" dan "sepenuhnya tidak benar."
Analisis: Tiga Pertanyaan Kunci
Babak Dorbeiki, analis politik berbasis di London dan mantan pejabat di Pusat Riset Strategis Iran, mengatakan kepada DW bahwa ada tiga pertanyaan yang harus dipisahkan: akurasi laporan, posisi Ahmadinejad dalam politik Iran saat ini, dan fungsi politik dari penerbitan cerita semacam itu.
"Tidak ada bukti publik dan independen yang dapat secara meyakinkan mengonfirmasi atau menolak detail-detail narasi ini," katanya. "Jadi tidak bisa diterima begitu saja, tapi juga tidak bisa diabaikan hanya karena sudah dibantah."
Dorbeiki berpendapat bahwa Ahmadinejad masih memiliki basis sosial dan ambisi politik yang cukup besar, tapi hal itu tidak boleh disamakan dengan kekuasaan nyata. Menurutnya, mantan presiden itu telah tersingkir dari institusi-institusi inti Republik Islam sejak sekitar 2010, termasuk dari Kantor Pemimpin Tertinggi, IRGC, Dewan Wali, dan sebagian besar kubu konservatif.
Siapa yang Diuntungkan?
Ahmadinejad berulang kali gagal lolos verifikasi sebagai calon presiden Iran. Menurut Dorbeiki, laporan-laporan itu tidak boleh dipahami semata-mata sebagai upaya Israel untuk mempromosikan Ahmadinejad sebagai penguasa masa depan. "Bahkan jika kita asumsikan laporannya benar, paling jauh itu menunjukkan bahwa pada suatu titik dia adalah salah satu pilihan yang dipertimbangkan, bukan bahwa dia akan segera kembali berkuasa," katanya.
Pertanyaan yang lebih mengungkap adalah siapa yang diuntungkan. Satu kemungkinan, negara Iran bisa menggunakan narasi itu untuk memperkuat gagasan bahwa bahkan seorang mantan presiden pun rentan terhadap penetrasi asing, membantu membenarkan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat dan mempertebal rasa saling curiga di dalam negeri. Kemungkinan lain, para pengkritik Ahmadinejad bisa menggunakannya untuk memperkuat argumen bahwa warisan politiknya selalu merugikan Iran. Bagi Israel, publikasi cerita semacam itu bisa menjadi alat intelijen untuk memberi sinyal bahwa Israel memiliki jangkauan dan kemampuan menabur ketidakpercayaan di dalam Iran.
Perang Informasi yang Lebih Luas
Vahid Heroabadi, mantan ulama Syiah yang kini tinggal di Eropa dan menjadi pengkritik Republik Islam, mengatakan kepada DW bahwa kekuatan-kekuatan luar yang mencari pergantian rezim biasanya mencari tokoh yang punya kapasitas mobilisasi massa. Tapi ia tidak percaya Ahmadinejad cocok untuk peran itu dalam Iran saat ini. "Mereka yang bisa memainkan peran dalam masa kini atau masa depan Iran adalah orang-orang yang terhubung dengan IRGC. Karena Ahmadinejad tidak lagi memiliki koneksi itu dan tidak mendapat dukungannya, dia tidak bisa benar-benar bertindak sebagai pemain politik yang menentukan," katanya.
Heroabadi, yang mengaku pernah dekat dengan pemerintahan Ahmadinejad, berpendapat bahwa bahkan dalam skenario keruntuhan rezim sekalipun, tidak ada pemerintah asing yang ingin memaksakan pergantian rezim yang akan bergantung pada tokoh populis yang sudah sangat dikenal dan memecah belah seperti Ahmadinejad. Menurutnya, Ahmadinejad bukan jembatan yang kredibel, baik bagi publik Iran maupun bagi otoritas keamanan yang punya peran penting dalam peralihan kekuasaan.
Laporan-laporan tentang mantan presiden itu mengungkap banyak hal tentang perang informasi yang lebih luas seputar Iran, tentang narasi yang mungkin ingin diproyeksikan oleh dinas-dinas intelijen, dan tentang bagaimana pihak-pihak luar membayangkan skenario pasca-Republik Islam di Iran, meski semua itu masih jauh dari kenyataan politik. Laporan-laporan itu menunjukkan betapa perjuangan atas Iran kini telah menjadi perjuangan atas narasi dan persepsi. Dalam pertarungan itu, bahkan cerita yang tidak masuk akal pun bisa menjadi berguna jika berhasil membuat cukup banyak orang merasa tidak tenang.



