Buaya Muara di Situ Habibie Sukabumi Serang Anak Sapi, Warga Panik
Buaya Muara di Situ Habibie Sukabumi Serang Anak Sapi

Seekor anak sapi cokelat harus menjadi korban keganasan buaya muara di Situ Habibie, Kampung Pasirkawung, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (25/6/2026) sore. Anak sapi itu tengah berusaha minum di tepi situ untuk melepas dahaga ketika musim kemarau sedang memuncak.

Tanpa peringatan, dari balik kedalaman air keruh seekor buaya muara sepanjang lebih dari dua meter melompat dan mengunci tubuh anak sapi tersebut. Serangan terjadi begitu cepat sehingga warga di lokasi sempat kaget dan berhamburan untuk memberikan pertolongan.

Kronologi Serangan Buaya Muara

Peristiwa itu menimbulkan kepanikan di sekitar Situ Habibie. Sejumlah warga berteriak dan mengayunkan galah panjang demi memaksa buaya melepaskan mangsanya. Anak sapi akhirnya berhasil diselamatkan, namun sudah dalam kondisi luka di bagian belakang tubuh.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kepala Desa Cipeundeuy, Bakang Anwar As'adi, membenarkan kejadian tersebut. "Anak sapi itu mau minum karena kemarau. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, langsung dihantam buaya. Alhamdulillah tidak sampai mati, tapi paha dan kaki belakangnya robek akibat gigitan," ujarnya kepada detikJabar, Kamis (30/6/2026).

Video Viral dan Kekhawatiran Masyarakat

Momen dramatis itu terekam oleh kamera warga dan kemudian menyebar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan besarnya ukuran buaya dan kedekatan predator itu dengan permukiman serta tempat aktivitas warga. Viral-nya kejadian ini kembali mempertegas kekhawatiran masyarakat yang mendiami sekitar Situ Habibie.

Bukan kali pertama buaya muncul di kawasan tersebut. Warga mengaku sering melihat buaya berjemur atau berenang di sekitar situ. Namun, serangan terhadap ternak menjadi eskalasi yang membuat suasana di desa semakin mencekam.

Sejak insiden itu, warga sekitar semakin waspada. Mereka tak lagi membiarkan ternak berkeliaran bebas di sekitar situ. Sebagian warga bahkan memilih memindahkan ternaknya ke tempat yang lebih aman meskipun harus menempuh jarak lebih jauh.

Pemerintah Desa Sudah Berkali-kali Berkoordinasi

Pemerintah Desa Cipeundeuy mengaku telah menempuh berbagai upaya untuk menangani persoalan ini. Bakang menyatakan sudah berulang kali mengirimkan surat dan mengadakan koordinasi dengan instansi terkait. Namun, hasilnya belum memuaskan.

"Saya sudah berkoordinasi dengan semua pihak. Dulu dari BKSDA cuma dipasang papan imbauan saja, padahal kami di desa sudah berbuat lebih dari sekadar mengimbau warga," cetus Bakang.

Beban Wewenang Antarinstansi

Selain BKSDA, desa juga sempat mengarahkan persoalan ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) karena kaitannya dengan perlindungan ternak. Namun, Bakang mengaku tidak mendapatkan kejelasan mengenai siapa yang berwenang menangani buaya di Situ Habibie.

"Kemarin-kemarin isunya penanganan dilempar ke DKPP. Saya bingung, sebenarnya siapa penanggung jawab resminya?" ujarnya.

Ketiadaan penanggung jawab yang jelas membuat langkah penanganan menjadi lambat. Sementara itu, warga dan ternak mereka terus berada dalam ancaman. Padahal, perairan Situ Habibie memiliki potensi sebagai habitat buaya muara yang cukup besar.

Upaya Sementara Warga

Sebagai langkah awal, aparat desa terus mengimbau agar warga tidak mendekati tepian Situ Habibie, khususnya pada waktu-waktu rawan seperti sore dan malam hari. Warga juga diminta memperketat pengawasan terhadap hewan ternak agar tidak berkeliaran di dekat perairan.

Namun, imbauan dianggap tidak cukup. Warga berharap pemerintah segera merelokasi buaya atau memasang pagar pengaman permanen di area yang dihuni predator. Sebab, serangan buaya bisa terjadi kapan saja, baik terhadap ternak maupun manusia.

Pemasangan papan peringatan oleh BKSDA dinilai tidak efektif karena warga membutuhkan solusi permanen. Sebab, selama buaya masih berada di Situ Habibie, risiko serangan terhadap ternak dan manusia akan terus ada.

Pentingnya Mitigasi Konflik Satwa Liar

Kasus ini menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dan satwa liar perlu ditangani dengan serius dan terkoordinasi. Kejelasan wewenang antara pemerintah desa, BKSDA, DKPP, dan instansi lainnya menjadi kunci agar respons terhadap laporan warga tidak lagi berbelit-belit.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Dalam menghadapi situasi ini, sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, dan instansi pengelola satwa liar menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa koordinasi yang jelas, rancangan solusi kerap berhenti pada pembahasan dan tidak pernah sampai pada eksekusi di lapangan.

Warga berharap ada tindakan konkret yang segera dilakukan sebelum jatuh korban jiwa. Keterlibatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan dinas terkait sangat dinantikan untuk menangkap dan memindahkan buaya dari perairan tersebut.

Masyarakat Desa Cipeundeuy berharap agar Situ Habibie bisa kembali aman dan tidak dihuni oleh predator yang mengancam keselamatan mereka. Tanpa tindakan nyata, rasa waswas akan terus menyelimuti tepian situ yang dulu menjadi bagian keseharian warga.