Video Gedung Ambruk di Jepang Ternyata Rekayasa AI
Video Gedung Ambruk di Jepang Ternyata Rekayasa AI

Sebuah video yang memperlihatkan detik-detik sebuah gedung di Jepang roboh beredar luas di media sosial pada akhir Juli 2026. Dalam rekaman berdurasi pendek itu, tampak bangunan tinggi ambruk dalam hitungan detik, direkam dari lantai atas sebuah apartemen oleh seorang warga yang diduga berada di lokasi kejadian. Video tersebut langsung menyebar cepat dan memicu kekhawatiran publik, terutama setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,1 memang mengguncang Jepang pada Selasa (28/7/2026) sore waktu setempat.

Hasil Penelusuran Tim Cek Fakta

Namun, setelah dilakukan penelusuran mendalam oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut dipastikan bukan rekaman asli. Video itu merupakan hasil rekayasa menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Temuan ini membantah klaim yang beredar bahwa video tersebut memperlihatkan momen nyata saat gempa besar melanda Jepang.

Tim Cek Fakta Kompas.com menggunakan berbagai metode untuk memverifikasi keaslian video, termasuk analisis visual terhadap detail bangunan, gerakan kamera, dan pencahayaan. Selain itu, alat pendeteksi konten AI juga digunakan untuk mengidentifikasi tanda-tanda sintetis yang umum ditemukan pada video buatan mesin. Hasilnya, sejumlah kejanggalan ditemukan pada video tersebut, seperti tekstur permukaan bangunan yang tidak konsisten dan deformasi geometris yang tidak realistis ketika gedung mulai runtuh.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Mengapa Video AI Bisa Menyesatkan?

Fenomena penyebaran video palsu berbasis AI meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Video deepfake atau konten sintetis kini semakin sulit dibedakan dari rekaman asli, terutama ketika menyangkut peristiwa dramatis seperti bencana alam. Momen gempa bumi yang menimbulkan kepanikan menjadi lahan subur bagi penyebaran hoaks, karena banyak orang cenderung membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Dalam kasus ini, video yang diklaim memperlihatkan gedung ambruk di Jepang dengan latar gempa M 7,1 tidak hanya menyesatkan, tetapi juga berpotensi memperbesar kecemasan masyarakat. Padahal, informasi yang akurat dan terverifikasi sangat dibutuhkan saat keadaan darurat. Penyebaran konten AI yang tidak ditandai dapat mengganggu upaya penanganan bencana dan menimbulkan kebingungan di kalangan warga yang terdampak maupun keluarga mereka.

Imbauan untuk Masyarakat

Kompas.com mengimbau masyarakat untuk lebih kritis sebelum membagikan konten video atau foto yang beredar di media sosial, terutama yang berkaitan dengan peristiwa besar. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi video AI: perhatikan kualitas gambar yang janggal, periksa metadata jika tersedia, gunakan alat pendeteksi deepfake, serta cek sumber unggahan dan konteksnya. Selain itu, selalu rujuk informasi resmi dari lembaga bencana seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Indonesia atau otoritas setempat di Jepang.

Temuan Tim Cek Fakta Kompas.com ini menjadi peringatan bahwa tayangan viral di media sosial belum tentu benar. Dengan meningkatnya kemampuan AI dalam menciptakan konten realistis, kewaspadaan dan literasi digital menjadi kunci utama dalam menghadapi arus informasi. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpancing oleh sensasi dan selalu memverifikasi kebenaran suatu informasi, khususnya saat peristiwa besar sedang terjadi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga