Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa pasokan uranium diperkaya tinggi milik Iran harus segera diserahkan kepada Amerika Serikat atau dihancurkan. Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial Truth Social pada Senin, 25 Mei 2026, saat perundingan untuk mengakhiri perang dilaporkan semakin mendekati penyelesaian.
Pernyataan Trump tentang Uranium Iran
Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa uranium yang diperkaya tinggi, yang disebutnya sebagai "Debu Nuklir", akan segera diserahkan kepada AS untuk dibawa pulang dan dihancurkan. Alternatifnya, uranium tersebut dapat dihancurkan di tempat atau di lokasi lain yang dapat diterima, dengan Komisi Energi Atom atau lembaga setara sebagai saksi. Trump menekankan bahwa proses ini harus dilakukan secara bersamaan dan terkoordinasi dengan Republik Islam Iran.
Perundingan yang Dimediasi Pakistan
Uranium diperkaya tinggi milik Iran, bersama dengan pembukaan kembali Selat Hormuz, menjadi poin pembahasan alot dalam perundingan tidak langsung antara Washington dan Teheran. Pakistan bertindak sebagai mediator dalam perundingan tersebut. Laporan dari New York Times mengungkapkan bahwa AS dan Iran pada prinsipnya telah mencapai kesepakatan awal untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas komitmen Iran memusnahkan uranium diperkaya tinggi.
Bantahan Iran terhadap Laporan Media Barat
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menepis laporan media Barat yang menyebut kesepakatan semakin dekat. Baghaei mengakui bahwa Iran telah mencapai kesepahaman dengan AS pada banyak isu, tetapi menegaskan bahwa klaim penandatanganan perjanjian sudah dekat tidaklah akurat. "Memang benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan pada sebagian besar isu yang sedang dibahas. Tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan perjanjian sudah dekat -- tidak ada yang dapat menyampaikan klaim semacam itu," ujar Baghaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran.
Peran Pakistan dan China dalam Mediasi
Secara terpisah, Pakistan terus mengupayakan perdamaian. Panglima militer Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, mengatakan kepada Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, bahwa kesepakatan AS-Iran "hampir tercapai". Munir menyampaikan hal ini dalam pertemuan di Beijing pada Senin, 25 Mei 2026, yang digelar bersamaan dengan kunjungan resmi Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, ke China.
Sebelum terbang ke Beijing, Munir berkunjung ke Teheran pekan lalu dalam upaya mendorong tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu. Dalam pembicaraan di Beijing, Munir menyatakan bahwa Pakistan bersedia untuk "terus melakukan segala upaya" untuk memfasilitasi kesepakatan dan berharap China memainkan peran yang lebih besar dalam proses tersebut.



